
Kitab Amsal
04 Maret 2026
Diskursus Bukit Zaitun
09 Maret 2026Agustinus dari Hippo: Sebuah Kehidupan
Augustinus lahir pada puncak era kekristenan di zaman Kekaisaran Romawi, hidup selama dekade-dekade kemerosotan Romawi, dan meninggal ketika suku Vandal muncul di gerbang kota Hippo. Ia hidup persis di antara dua konsili ekumenis besar gereja mula-mula, yaitu Nicea (325) dan Kalsedon (451). Ia dapat dikatakan adalah tokoh terpenting, di luar Yesus dan murid-murid-Nya, dalam milenium pertama Gereja, dan mungkin sepanjang masa. Pengaruhnya terdapat pada perkembangan setiap doktrin utama, termasuk doktrin Tritunggal, doktrin anugerah, doktrin Alkitab, dan doktrin tentang akhir zaman (Eskatologi). Meski ia tidak selalu benar—kadang pikiran Platonismenya memengaruhi—ia jelas seorang pemikir terkemuka. Butuh berpuluh-puluh tahun agar Augustinus mengaku kepada Allah, “Engkau memakai segala sesuatu, yang kami sadari maupun tidak, demi tujuan yang hanya Engkau sendiri yang tahu.” Secara konteks, kata “segala sesuatu” merujuk kepada setiap peristiwa dalam hidupnya, setiap liku dan belokan, setiap kemajuan satu langkah dan kemunduran dua langkah, setiap kekalahan, setiap kemenangan, setiap kekecewaan, dan setiap perayaan.
Pengelana
Pada 13 November 354, Augustinus lahir di pesisir utara Afrika, di kota Tagaste, yang termasuk wilayah Numidia, bagian dari Kekaisaran Romawi yang luas. Numidia terkait dengan kata nomaden, dan penduduk wilayah tersebut adalah suku nomaden Berber yang ditaklukkan menjadi bagian Romawi pada masa Perang Punik tahun 200an dan 100an SM. Ayah Augustinus, Patrisius, adalah seorang pagan, sedangkan ibunya, Monika, adalah seorang Kristen yang taat dan terkadang mistik. Nantinya ia mendapat tempatnya sendiri dalam sejarah gereja sebagai salah satu ibu yang paling terkenal. Augustinus memiliki setidaknya seorang saudara laki-laki yang tidak begitu kita kenal, yaitu Navigius, dan seorang saudara perempuan, yang namanya kita tidak tahu.
Tagaste terletak pada sebuah dataran yang subur; salah satu yang tersubur di seluruh Afrika. Harimau dan singa berkeliaran di pegunungan di sekelilingnya. Kota tersebut penuh dengan pensiunan tentara Romawi. Namun, bertani atau menjadi tentara tidak menarik hati Augustinus. Pandangannya tertuju pada akademi. Pada usia 10 tahun ia berangkat ke Madaura, sebuah kota universitas kira-kira 24 kilometer jauhnya. Augustinus pergi, melihat, dan menaklukkan. Ia memberitahu kita bahwa ia belajar “sastra dan seni berbicara di hadapan publik”.
Augustinus kembali ke Tagaste pada tahun 370. Lalu, terjadilah peristiwa yang diceritakan dalam buku ke-2 dari The Confessions. Bab tersebut menyingkapkan dengan jelas tentang dosa, dan menemukan bahwa dosa adalah “bayangan yang memburu”. Dosa-dosa kedagingan dan hawa nafsu tubuh “menerjunkan kita ke dalam pusaran dosa”. Untuk membuat ini dimengerti secara nyata, Augustinus mengakui dosa besarnya mencuri beberapa buah pir. Ia sedang bersama teman-temannya, dan mereka berjalan melalui tanah tetangga dan mencuri buah pir. Augustinus mengaku bahwa ia tidak berkeinginan untuk menikmati hasil curiannya, tetapi hanya ingin menikmati tindakan mencuri itu sendiri. Ia berdosa karena ia ingin melakukannya. Namun, ia mengaku bahwa tindakan dosa itu membuatnya merasa hampa dan tidak bahagia.
Setelah belajar semua yang bisa ia pelajari di Madaura, Augustinus pergi ke Kartago, kota kedua terbesar di Kekaisaran Romawi waktu itu. Sekali lagi, Augustinus menonjol dalam pendidikan. Namun, semua kesuksesannya tetap tidak membuatnya puas. Dalam bahasa Latin, kota itu disebut Kartago. Kata sartago dalam bahasa Latin berarti “panci penggorengan”. Persis seperti itulah kota itu. Dengan pelabuhan yang sangat besar, banyak uang beredar, dan orang-orang penting datang dan pergi, Kartago adalah “panci penggorengan” dosa. Augustinus menyukai permainan kata Kartago-Sartago, yaitu “sebuah kota yang adalah panci dosa”. Ia merasa sangat tergoda oleh ketamakan, kemasyhuran, dan hawa nafsu.
Makin banyak belajar dan mengajar membuatnya makin terkenal, dan makin dalam ia terseret ke dalam pusaran dosa. Ia hidup dengan seorang wanita tanpa pernikahan dan setia kepadanya selama 15 tahun. Mereka memiliki seorang anak laki-laki, Adeodatus. Sebagaimana Tagaste dan Madaura sebelumnya, Kartago kini tampak kecil bagi Augustinus. Maka, ia dan kekasihnya serta anaknya berlayar ke kota terbesar di kekaisaran itu, yaitu Roma. Tidak lama setelah sampai, ia segera diterjang oleh gelombang kekecewaan lainnya dan kegalauan meliputinya. Ini mirip dengan kasus klasik ketika seorang atlet kampus yang menonjol tidak berhasil mendapatkan pertandingan penting pertama dalam kancah profesional. Maka, Augustinus, yang terus berkelana, mundur ke Milan untuk mendapatkan pijakan.
Ketika ia secara harafiah berkelana di antara kota-kota Kekaisaran Romawi, ia juga berkelana di antara worldview dan filosofis zaman itu. Ia lari dari Allah, dan segera jatuh ke dalam cengkeraman Manikheisme, sebuah turunan jauh dari Platonisme yang menambahkan beberapa unsur kekristenan (yang sangat menyimpang) serta agama-agama misteri dari berbagai daerah yang ditaklukkan Romawi. Augustinus terutama sibuk merenungkan pertanyaan tentang hakikat dan asal-mula kebaikan dan kejahatan. Pikirannya gelisah (tidak dapat beristirahat).
Terang
Di sebuah taman dekat sebuah air mancur di Milan, sesuatu yang tidak disangka-sangka terjadi dalam kehidupan Augustinus. Empat hal menuntun kepada peristiwa itu. Pertama, salah seorang sahabat Augustinus meninggal. Augustinus bercerita tentang banyak sahabatnya di dalam The Confessions, tetapi nama yang satu ini tidak disebutkan, seakan-akan menyebut namanya terlalu menyakitkan bagi Augustinus. Hal kedua terkait dengan ibunya. Selama Augustinus berkelana, Monika mengikutinya dengan dekat. Ia pun tiba di Milan. Di sepanjang hidup Augustinus, ia tidak pernah berhenti mendoakan keselamatan putranya dan dalam imannya ia tidak pernah ragu bahwa Allah akan menyelamatkan Augustinus. Ketiga, Augustinus mendengar khotbah Ambrosius. Ia pernah “mencoba” kekristenan tetapi mendapati kekristenan tidak memuaskan secara retorika. Namun, ia kemudian mendengar khotbah Ambrosius yang persuasif dan meyakinkan. Itu mendorongnya untuk membaca Perjanjian Baru. Hal keempat yang terjadi berkaitan dengan pencariannya akan kebahagiaan dan pemuasannya atas kerinduan dan keinginannya yang terdalam. Makin ia mengejar kebahagiaan, makin ia merasa tidak bahagia. Makin ia mengejar kepuasan, makin ia merasa hampa. Ia seperti kapal yang mendarat di semua pelabuhan yang salah. Di dalam paragraf pertama dari The Confessions, ia menulis kalimat klasik ini: “Hati kami tidak dapat beristirahat sampai menemukan peristirahatan di dalam-Mu.”
Maka ia duduk di taman itu bersama sahabatnya, Alipius. Sebuah salinan surat Paulus kepada jemaat di Roma ada bersamanya. Lalu, ia mendengar apa yang ia dapat bersumpah terdengar seperti suara nyanyian anak-anak dalam sebuah permainan, “Tolle, lege. Tolle, lege.” “Ambillah, baca. Ambillah, baca.” Maka, ia mulai membaca surat Roma. Tiba-tiba, sebuah terang membanjiri jiwanya, menghalau segala kegelapan dan keraguan. Augustinus menemukan apa yang selama ini ia cari: kebenaran, sukacita, kehidupan, kebahagiaan, dan damai sejahtera. Hatinya yang tidak dapat beristirahat menemukan peristirahatan.
Namun, seperti yang nantinya Augustinus ajarkan, ia tidak menemukan Allah; Allah yang menemukan dia. Sebagai konsekuensi, ada unsur kelima, yang adalah puncak, dari kisah pertobatan Augustinus di Milan tahun 386 itu. Ketika Augustinus mengira ia sedang berkelana menjauhi Allah, sang “Anjing Pemburu dari Surga”, sebagaimana ia menyebut Allah di dalam komentari Mazmurnya, selama waktu itu sedang membawanya kepada diri-Nya sendiri. Kisah kehidupan Augustinus adalah sebuah kemenangan anugerah Allah yang berdaulat. Ketika aktor manusia memerankan hidupnya, Allah secara berdaulat mengatur segala perkara manusia, mengarahkan segala sesuatu untuk menggenapi ketetapan dan tujuan kekal-Nya, seperti seorang pemanah kawakan melepas anak panah tepat ke tengah sasaran.
Tepat setelah pertobatan Augustinus, ia dan beberapa sahabatnya pergi ke Kassiakum, sebuah kota resort di dekat kaki pegunungan Alpen Italia. Di sana dia, seorang yang baru menjadi Kristen, menulis buku-buku Kristen pertamanya—Augustinus telah menulis banyak buku mencakup banyak topik sebelum bertobat, tetapi semuanya hilang dalam sejarah. Buku kedua yang ditulisnya merupakan sebuah dialog singkat berjudul On the Happy Life. Seperti “Allegory of the Cave” karya Plato atau “The Story of a Good Brahmin” karya Voltaire, tulisan ini menyelidiki pertanyaan dasar tentang kebahagiaan dan cara memperolehnya. Augustinus berkata bahwa hanya sedikit orang yang benar-benar bahagia. Namun, mereka yang mendapatkan kebahagiaan, seperti dia, menyadari ini: “Siapa pun yang berbahagia, ia memiliki Allah.” Ia menambahkan bahwa memiliki Allah adalah menikmati Dia sepenuhnya.
Augustinus kembali ke Milan dan dibaptis oleh Ambrosius pada musim semi tahun 387, bersama dengan Adeodatus dan Alipius, dan mereka segera berencana pulang. Ia memulangkan kekasihnya dan tidak menikahinya—sebuah tindakan yang ia sesali di kemudian hari. Ia membawa serta anak laki-lakinya. Bersama Monika, mereka tiba di Ostia, sebuah kota pelabuhan yang melayani kota Roma, menyewa beberapa kamar yang menghadap pekarangan, dan menanti perjalanan pulang ke Kartago. Di sana, di Ostia, Monika meninggal dan “sebuah gelombang duka yang besar melanda” hati Augustinus. Episode ini, yang dapat dibaca pada buku ke-9 dari The Confessions, adalah salah satu momen paling menyentuh yang ditulis Augustinus.
Uskup
Sementara Augustinus tinggal di Tagaste tahun 389, Adeodatus, yang telah pergi ke Kartago untuk belajar, meninggal. Augustinus mendedikasikan energinya untuk menulis, dan ditahbiskan pada tahun 392 di Hippo Regius, di wilayah Aljazair modern. Pada masa Augustinus, kota itu adalah ibukota wilayah tersebut. Kota tersebut memiliki sebuah teater yang dapat menampung enam ribu orang, dan semua fasilitas yang biasanya ditemukan pada kota-kota Romawi kuno. Kota ini juga memiliki sebuah basilika besar. Empat tahun setelah menjadi imam, Augustinus diangkat menjadi uskup Hippo Regius.
Sebagai uskup, Augustinus mengawasi konsili-konsili gereja, membahas segala kontroversi yang muncul pada masanya, menawarkan nasihat rohani kepada banyak orang, termasuk para jenderal dan pejabat Romawi, mengunjungi jemaat-jemaat di seluruh lingkup keuskupannya; menengahi pertikaian-pertikaian, bahkan turun tangan dalam kegiatan pengumpulan dana untuk proyek-proyek pembangunan gereja. Sebagaimana telah disebutkan, ia juga kerap berkhotbah. Basilika kota Hippo berukuran hampir separuh lapangan sepak bola Amerika panjangnya. Atapnya terdiri dari palang-palang kayu yang dilapisi ubin-ubin terakota. Lantainya ditutupi mosaik, dan bagian sudutnya dibuat dari marmer yang berasal dari daerah itu. Di antara area altar dan bagian tengah gedung terdapat struktur pahatan batu yang darinya Augustinus biasa berkhotbah.
Augustinus menyelesaikan segala pertikaian. Dalam sebuah kasus di sebuah perpustakaan, beberapa imam yang bertugas menyalin naskah terganggu sepanjang hari oleh orang-orang yang ingin “meminjam” naskah-naskah lain di perpustakaan itu. Mereka terlalu sibuk melakukan tugas sebagai pustakawan sehingga tidak dapat befokus pada tugas penyalinan kitab. Augustinus menerapkan akal sehat. Tetapkan satu jam tertentu setiap hari untuk peminjaman buku; selain itu, biarkan para penyalin kitab bekerja tanpa diganggu.
Persoalan-persoalan semacam itu adalah “rubah-rubah kecil” yang menyita waktu Augustinus. Perihal besar adalah dua kontroversi terkait Donatisme dan Pelagianisme. Kontroversi Donatis berasal dari dekade pertama abad ke-4 dan masa penganiayaan hebat sampai menjelang naiknya Konstantinus menjadi Kaisar Romawi. Setelah agama Kristen dilegalkan oleh Konstantinus dan masa penganiayaan berakhir, orang-orang yang berkompromi dalam iman mereka selama masa penganiayaan duduk berdampingan di bangku gereja dengan orang-orang yang tetap setia dan karenanya menderita selama penganiayaan. Konflik itu terasa sangat kuat, khususnya di Kartago dan seluruh wilayah Afrika Utara. Selama puluhan tahun, isu tentang tradisi, keanggotaan gereja, hakikat kemurtadan, dan hakikat keselamatan itu sendiri, semuanya menjadi saling terkait dalam Donatisme.
Pelagianisme menyentuh inti dari berita Injil. Pelagius meninggalkan Inggris menuju Roma kira-kira pada tahun 380. Sekitar tahun 400, ia masuk ke dalam diskusi tentang moralitas dan transmisi dosa. Pelagius ingin agar manusia bertanggung jawab secara moral dan melihat bahwa itu hanya dapat terjadi bila dosa Adam tidak diimputasikan kepada keturunannya. Bagi Pelagius, Adam hanyalah sebuah teladan. Hasil akhirnya adalah, manusia tidak dilahirkan berdosa, tetapi netral. Kita bebas memilih melakukan kebaikan dan Allah atau sebaliknya. Augustinus menentang ajaran sesat dari Pelagius dengan menonjolkan anugerah Allah. Kita dilahirkan berdosa, tidak netral. Ia memperkenalkan ungkapan non posse non peccare, yang berarti kita “tidak dapat tidak berdosa”. Dengan kata lain, kita terikat dengan dosa. Lalu, Augustinus menyatakan, “Tidak ada yang dapat membebaskan selain anugerah Allah melalui Yesus Kristus.” Kita tidak bekerja sama dengan anugerah Allah dalam keadaan sebelum lahir baru. Kita tidak mengambil langkah pertama menuju Allah. Kita terikat dengan dosa dan mati dalam dosa. Namun, dalam anugerah-Nya, Allah mengutus Anak-Nya, melahirbarukan kita, dan mengaruniakan iman kepada kita.
Di dalam sebuah surat yang ditulisnya pada tahun 426, Augustinus menjelaskan bahwa jika anugerah Allah dikaruniakan sebagai upah atas perbuatan kita, kita setidaknya beroleh sebagian kemuliaan dalam keselamatan. Di dalam Pelagianisme, kemuliaan tidak hanya diberikan kepada Allah, tetapi juga kepada manusia. Augustinus hanya mengungkapkan bahwa Alkitab melarang pemikiran demikian. Kita telah menerima segalanya dari Allah, khususnya keselamatan kita, sehingga kemuliaan hanya bagi Dia. Meski Augustinus memberikan bantahan yang jelas, Pelagianisme bertahan sampai abad ke-5 dan setelahnya.
Augustinus memimpin serangan dalam pertempuran-pertempuran itu, tetapi ia tidak sendirian. Ia terus bersahabat dengan Alipius selama masa-masa itu. Mereka bersama-sama bertobat, dibaptis, ditahbiskan, dan melayani wilayah-wilayah keuskupan yang berdampingan. Augustinus kerap mengutip definisi Cicero tentang persahabatan: “Persahabatan adalah sebuah kesepakatan yang disertai kebaikan dan kasih sayang, tentang hal-hal manusiawi dan ilahi.” Augustinus dan Alipius telah bersahabat dalam hal-hal manusiawi, dan kemudian mereka bersahabat dalam hal-hal ilahi di dalam Kristus. Augustinus meyakini bahwa persahabatan seperti yang ia miliki dengan Alipius, dan beberapa yang lain, adalah sebuah karunia lanjutan yang berpangkal pada karunia keselamatan Allah. Augustinus jelas lebih menonjol daripada rekan-rekan sejawatnya, dan banyak nama sahabat dan saudara seperjuangannya selama masa-masa kontroversi dan krisis tidak lagi kita kenal. Namun, Augustinus tahu bahwa ia tidak sendirian, dan bahwa ia ditopang oleh orang-orang lain.
Krisis
Augustinus menulis sekitar empat ratus buku yang panjangnya bervariasi. Banyak darinya menjadi buku klasik. Dua di antaranya sangat monumental: The Confessions dan The City of God. Augustinus menulis The Confessions pada tahun 400. Ia mulai menulis The City of God pada tahun 412 dan menyelesaikannya tiga belas tahun kemudian. Buku The City of God diilhamkan oleh krisis yang mendominasi dua dekade terakhir dari kehidupan Augustinus—yaitu pengepungan kota Roma dan kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat setelahnya. Alarik, raja bangsa Visigot, mengepung kota Roma pada tahun 410, menyebabkan kepanikan massal. Hidup tanpa Kekaisaran Romawi hampir tidak dapat dibayangkan oleh banyak orang di Barat, dan banyak orang tidak dapat membayangkan Gereja tanpa struktur dan dukungan Kekaisaran Romawi. Orang-orang lain menyalahkan kekristenan atas kekalahan Romawi dan keruntuhan kekaisarannya. Kemana pun Augustinus melihat, ia melihat pemikiran yang keliru. Ia terutama adalah seorang pengajar, maka ia menulis The City of God untuk mengajarkan kepada Gereja sebuah cara pandang yang lebih baik tentang krisis yang tampak.
Augustinus memulai dengan kota Allah yang mulia, yaitu kota atau kerajaan yang tidak berkesudahan. Hanya kota itu yang kekal, terus ada, dan sejati. Lalu, ada kota manusia, yang menyukai ilahnya sendiri. Selalu ada persaingan di antara dua kota ini. Bangsa dan kerajaan datang dan pergi, tetapi pertikaian tetap ada. Namun, kemenangan dan supremasi hanya milik kota Allah. Sambil mengingat Kekaisaran Romawi, Augustinus menulis pada halaman pertama mengenai “semua pembesar bumi yang berjalan sempoyongan di keadaan yang selalu berubah ini”. Bangsa, worldview, dan ideologi, semua sempoyongan, bergeser, dan pada akhirnya runtuh.
Augustinus menulis halaman-halaman terakhir buku tersebut pada tahun 425. Ia merasakan umurnya yang sudah tua, dan pikiran-pikirannya tertuju ke surga. Ia menulis tentang kebahagiaan besar yang menanti di sana, bagaimana kita akan menjadi murni dan tidak lagi tercemar oleh dosa, dan bagaimana Allah menjadi sepenuhnya semua di dalam semua. Di sana kita akan menikmati keindahan sejati, dan semua kerinduan dan keinginan kita akan terpuaskan sepenuhnya. Augustinus menyebut surga sebagai tempat peristirahatan kekal yang kudus (sanctum aeternum otium), di mana kita akan diam dengan tenang dan mengetahui bahwa Allah hadir, dan kita ada bersama-Nya di dalam kota-Nya.
Pada tahun 430, orang-orang Vandal mengepung kota Hippo. Augustinus merancang pertahanan terakhir kota itu dari ranjang kematiannya. Sementara tubuhnya melemah, para penyalin kitabnya yang setia menyalin kitab Mazmur dengan huruf-huruf besar supaya dapat ia baca. Ketika ia tidak sanggup lagi memegang lembar-lembar halamannya, mereka menempelkannya di dinding. Tidak lagi dalam pelarian, Augustinus kini memiliki jauh lebih banyak daripada yang ia butuhkan atau inginkan, sebab ia memiliki Allah, yang adalah semua di dalam semua.
Detail dari Vices and Virtues on Earth, from ‘De Civitate Dei’ by St. Augustine of Hippo (354-430), Bridgeman Images


