3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Kitab Kidung Agung
29 Mei 2024
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Markus
03 Juni 2024
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Kitab Kidung Agung
29 Mei 2024
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Markus
03 Juni 2024

3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Matius

Ayat pertama di dalam Injil Matius mengungkapkan tiga hal penting mengenai Yesus yang merangkum banyak hal yang akan disampaikan selanjutnya.

1. Injil Matius adalah tentang Yesus, sang Kristus

Injil Matius adalah sebuah injil yang berbicara tentang “Kristus”, yaitu “Yang Diurapi” yang dijanjikan di dalam Perjanjian Lama, yaitu Mesias (1Sam. 2:10; Mzm. 2:2; Dan. 9:25; lihat juga Mat. 1:16-18; 2:4; 16:16, 20; 22:42; 23:8-10). Injil Matius meneruskan kisah keselamatan yang telah diwahyukan di dalam Perjanjian Lama dan, secara paling tepat, merupakan jalan masuk kita ke dalam Perjanjian Baru. Injil Matius berulang kali merujuk kepada Perjanjian Lama, bahkan menulis dengan gaya Perjanjian Lama.1

Akan tetapi, Injil Matius lebih dari sekadar kelanjutan dari kisah tersebut; Injil Matius adalah penggenapannya—poin yang diberikan dengan penekanan besar. Sepuluh kali Injil Matius menunjukkan bahwa apa yang terjadi di dalam kehidupan Yesus merupakan penggenapan dari apa yang pernah dikatakan oleh para nabi (Mat. 1:22; 2:15, 17, 23; 4:14; 8:17; 12:17; 13:35; 21:4; 27:9). Serupa dengan itu, ada sepuluh mukjizat di dalam pasal 8-9 yang menunjukkan bahwa Yesus memiliki kuasa penuh untuk memberikan penyembuhan dan keselamatan bagi umat-Nya sebagaimana telah dijanjikan oleh para nabi (Mat. 8:17, mengutip Yes. 53:4; bdk. Yes. 35:5). Injil Matius menyoroti hal ini dengan caranya yang khas dalam melaporkan mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus, yaitu Ia “menyembuhkan orang-orang … dari segala penyakit dan [segala] kelemahan” (Mat. 4:23; 9:35; 10:1). Matius merasa tidak cukup bila hanya mengatakan “segala penyakit dan kelemahan” sebab ia ingin menekankan bahwa tidak ada yang dapat mengalahkan kuasa-Nya—maka, ia mengulangi kata sifat itu dua kali, “menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan segala kelemahan”. Dengan berulang kali menyebut istilah “Anak Daud” ketika mengisahkan kesembuhan-kesembuhan yang diadakan Yesus (Mat. 9:27; 12:23; 15:22; 20:30), Injil Matius menunjukkan bahwa Kerajaan-Nya adalah Kerajaan yang sepenuhnya berisi berkat dan kelepasan bagi umat-Nya. Ia benar-benar adalah Hamba yang diurapi (Mat. 12:18-21, mengutip Yes. 42:1-3), sang Kristus, yaitu Mesias yang lama dinantikan, penggenapan atas semua yang telah dinubuatkan oleh para nabi.

2. Injil Matius adalah tentang Yesus, Anak Daud

Yesus Kristus juga adalah Anak Daud yang dijanjikan, Dia yang Kerajaan-Nya tidak berkesudahan (2Sam. 7:13; Mzm. 89:5; Yes. 9:7). Injil Matius menuliskan silsilah Yesus sebagai keturunan raja (Mat. 1:2-17) dengan menelusuri silsilah-Nya dalam tiga tahap, dari Abraham sampai Daud, dari Daud sampai Yekhonya dan saudara-saudaranya pada masa pembuangan ke Babel, dan dari Yekhonya sampai Yusuf, Anak Daud, yang adalah suami Maria, yang darinya Yesus dilahirkan. Dengan memberikan perhatian khusus terhadap pembuangan ke Babel yang disebutkan dua kali (Mat. 1:11, 12), Injil Matius menunjukkan bahwa janji Allah kepada Daud tidak berakhir dengan pembuangan ke Babel. Maka, Injil Matius mengutip kata-kata terakhir dari kitab 2 Raja-raja, yang memberitahu kita bahwa garis keturunan Daud—meski terjadi pembantaian terhadap lima anak laki-laki Zedekia—tetap terpelihara selama masa pembuangan ke Babel melalui Yekhonya (yang juga disebut Yoyakhin; Yer. 24:1; 2Raj. 24:6-17; 25:27-30). Kitab 2 Raja-raja berakhir dengan antisipasi terhadap pemerintahan Mesias, memberitahu kita bahwa Yoyakhin dilepaskan dari penjara dan diberikan kedudukan melampaui raja-raja lain yang ada di Babel. Injil Matius ditutup dengan penggenapan perikop tersebut, menunjukkan bahwa Yesus, Anak Daud, diberikan segala otoritas di langit dan di bumi (Mat. 28:18).

3. Injil Yesus adalah tentang Yesus, Anak Abraham

Injil Matius memberitahu kita bahwa Yesus adalah Anak Abraham, yang berarti bukan hanya Yesus adalah keturunan Abraham, tetapi bahwa Ia adalah benih Abraham yang dijanjikan, yaitu Dia yang di dalamnya semua bangsa di dunia akan mendapat berkat (Kej. 22:18; 26:4). Jangkauan keselamatan mencakup “semua bangsa” yang diberikan oleh Yesus ini diperkenalkan secara sangat terselubung di dalam silsilah tersebut (Mat. 1:2-6) dengan menyebutkan empat orang perempuan: tiga di antaranya adalah non-Yahudi (Tamar, Rahab, dan Rut), dan yang terakhir adalah istri dari seorang non-Yahudi (Uria orang Het; 2Sam. 11:3). Lalu, setelah kelahiran Yesus, kita menemukan bahwa Allah telah memanggil orang-orang majus non-Yahudi dengan petunjuk sebuah bintang untuk menyembah Dia yang lahir sebagai Raja orang Yahudi (Mat. 2:1-12, merujuk kepada Yes. 60:1-7). Ketika tiba waktunya bagi Raja ini memulai pelayanan publik-Nya, Ia melakukannya di daerah “Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain” sebab Ia memberikan keselamatan atas “semua bangsa” (Mat. 4:12-17, menggenapi Yes. 9:1-2).

Di antara mukjizat-mukjizat awal yang diadakan Yesus adalah penyembuhan terhadap hamba seorang perwira Romawi (Mat. 8:5-13), kemudian anak perempuan seorang perempuan Kanaan yang disiksa oleh roh jahat (Mat. 15:21-28). Peristiwa memberi makan empat ribu orang (yang dikatakan di dalam Mrk. 7:31 terjadi di wilayah Dekapolis di sebelah timur Danau Galilea) menunjukkan bahwa Yesus melakukan di tengah-tengah orang-orang non-Yahudi apa yang Ia telah lakukan bagi orang-orang Yahudi ketika memberi makan lima ribu orang (Mat. 14:13-21; 15:32-38). Dalam Diskursus di Bukit Zaitun, Yesus mengungkapkan bahwa Injil Kerajaan Allah harus diberitakan ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi segala bangsa sebelum kesudahan tiba (Mat. 24:14). Kitab ini ditutup dengan perintah Yesus supaya Rasul-Rasul-Nya memuridkan segala bangsa, yang mengarahkan kita kepada penggenapan janji yang disampaikan kepada Abraham (Mat. 28:18-20).

Yesus adalah Kristus, Anak Daud dan Anak Abraham. Inilah tiga hal yang yang perlu Anda tahu tentang Injil menurut Matius.

  1. Sebagai contoh, Matius memakai kata dalam bahasa Yunani, idou, lebih dari enam puluh kali. Kata ini muncul lebih dari seribu kali di dalam Perjanjian Lama berbahasa Yunani, dan umumnya diterjemahkan sebagai “lihat” tetapi kadang-kadang diterjemahkan dengan kata lain. Lukas menulis dengan cara serupa, tetapi Markus dan Yohanes tidak sering menggunakannya. Para pembaca Alkitab berbahasa Inggris versi NIV harus waspada sebab versi tersebut kerap menghilangkan kata itu sebab gaya bicara demikian tidak lazim di zaman ini. Namun, Injil Matius dan Perjanjian Lama memang berbicara seperti itu; itu adalah salah satu cara Alkitab menekankan poin tertentu. Dengan demikian, Injil Matius menunjukkan betapa dalamnya bahasa Perjanjian Lama meresap ke dalam jiwanya. Perhatikan bahwa penggunaan kata itu pertama kali (1:20) terjadi persis sebelum kutipan dari Perjanjian Lama yang juga memakai kata tersebut (1:23). Alkitab versi NIV menghilangkan kata tersebut pada kedua ayat itu.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Mark E. Ross
Mark E. Ross
Dr. Mark E. Ross adalah professor bidang Teologi Sistematika di Erskine Theological Seminary di Columbia, South Carolina. Ia adalah penulis Let’s Study Matthew.