3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Matius
31 Mei 2024
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Lukas
05 Juni 2024
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Matius
31 Mei 2024
3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Lukas
05 Juni 2024

3 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang Injil Markus

Injil Markus adalah yang terpendek dari keempat Injil, tetapi kaya dengan pemahaman kristologis. Seperti halnya Injil-Injil yang lain, Injil Markus perlu dilihat sebagai sebuah narasi berkelanjutan supaya kita dapat menghargai pesan teologisnya. Membaca Injil Markus sebagai narasi berarti mengizinkan keseluruhan isinya mengarahkan cara kita membaca bagian-bagiannya.

Dalam terang tersebut, berikut ini adalah tiga sumbangsih dari narasi Markus.

1. Injil Markus menampilkan Yesus sebagai Anak Allah yang ilahi

Kadang orang mengira bahwa Injil Markus menunjukkan kepada kita sisi kemanusiaan Yesus, sedangkan Injil Yohanes, surat-surat Paulus, surat Ibrani, dan kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru menampilkan Yesus sebagai ilahi. Pastinya, di dalam Injil Markus, Yesus ditampilkan sebagai manusia sejati. Ia adalah Adam yang baru yang menaati Allah secara sempurna dan memulihkan kedamaian yang pada mulanya direncanakan untuk Taman Eden (lihat Mrk. 1:12-13).

Kemanusiaan Yesus sering kali lebih mudah diamati sebab Yesus jelas seorang manusia yang hidup dan beraktivitas di dunia kuno. Ia menunjukkan amarah, belas kasihan, keletihan, kelaparan, penderitaan, dan mengalami kematian. Kita harus mengakui dan bersukacita atas kemanusiaan sepenuhnya dari Yesus, sebab Juru Selamat kita adalah manusia sejati, sama seperti kita.

Akan tetapi, jika kita mengira Injil Markus hanya menampilkan Yesus sebagai manusia sejati, kita secara drastis telah meremehkan dan salah memahami Injil ini. Harus diakui bahwa ini sering sekali terjadi di dalam tulisan-tulisan para ahli tentang Yesus menurut Injil Markus. Namun, kita jangan melewatkan indikasi-indikasi jelas yang diberikan Injil Markus bahwa Yesus adalah Allah.

Di dalam Markus 1:1, pesan Injil adalah pesan dari Yesus Kristus, Anak Allah. Ini sudah mengasumsikan keilahian Yesus, sebagaimana dipertegas oleh penyebutan-penyebutan di masa depan yang menggunakan istilah “Anak Allah”. Penyebutan “Anak Allah” berikutnya terjadi pada waktu Yesus dibaptis, di mana suara surgawi yang supranatural menyebut-Nya sebagai “Anak Allah” (Mrk. 1:11). Setelah itu, dalam banyak kesempatan Yesus dikenali oleh sosok-sosok supranatural sebagai “Anak Allah” (Mrk. 1:24; 3:11; 5:7-10), termasuk pada peristiwa transfigurasi, di mana kita melihat sekilas kemuliaan ilahi Yesus (Mrk. 9:2-7). Memang, di dalam Injil Markus, tidak ada orang yang tidak dirasuki yang mengakui Yesus adalah “Anak Allah” sampai pada penghujung Injil tersebut, yaitu ketika seorang perwira Romawi di lokasi penyaliban mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah (Mrk. 15:39). Setelah peristiwa penyaliban itu, kita melihat dengan jelas bahwa Yesus benar-benar dibangkitkan dari antara orang mati sebagaimana yang telah Ia nubuatkan (Mrk. 16:1-8). Ini pun menunjuk kepada kemuliaan ilahi Yesus yang telah diantisipasi dalam peristiwa transfigurasi.

Kita juga dapat mendaftarkan cara-cara lain kita dapat melihat keilahian Yesus di dalam Injil Markus, termasuk peristiwa Tuhan masuk ke dalam Bait-Nya (Yes. 40:3; Mrk.1:2-3), otoritas Yesus mengampuni dosa (Mrk. 2:5-6), otoritas-Nya atas alam (Mrk. 4:35-41), dan otoritas-Nya membangkitkan orang mati (Mrk. 5:35-43). Kesimpulannya, di dalam Injil Markus, Yesus bukan  hanya manusia sejati, tetapi juga Allah sejati.

2. Yesus berbicara dengan jelas di dalam Injil Markus tentang tujuan dari kematian-Nya yang unik dan menggantikan.

Fitur kunci lain dari Injil Markus adalah kematian Yesus yang telah direncanakan. Beberapa orang berpendapat Injil Injil tidak memiliki teologi penebusan. Namun, Injil Markus membantah pandangan tersebut sebab Yesus mengungkapkan dengan jelas rencana kematian-Nya setidaknya dalam dua peristiwa.

Salah satu ayat yang paling jelas di mana Yesus berbicara tentang rencana-Nya untuk mati adalah Markus 10:45: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Perhatikan bahasa penggantian dalam frasa “bagi banyak orang”. Frasa ini mencerminkan bahasa dari “Hamba yang menderita” di dalam Yesaya 53:11-12.

Teks kedua yang menunjukkan kematian Yesus yang menggantikan ditemukan pada kata-kata dalam penetapan Perjamuan Kudus (Mrk. 14:22-25). Di sini Yesus menunjukkan melalui roti dan anggur bahwa tubuh dan darah-Nya akan ditumpahkan bagi banyak orang. Hal ini sekali lagi mencerminkan perikop Yesaya 53 tentang “Hamba yang menderita” dan membuat jelas bahwa Yesus memaksudkan kematian-Nya menjadi kurban yang menggantikan. Karena itu, tepatlah bila kita terus merayakan Perjamuan Kudus untuk mengingat kematian Yesus sampai Ia datang kembali (lihat 1Kor. 11:23-26).

3. Tanpa mengurangi keunikan kematian Kristus, Injil Markus juga menampilkan penderitaan dan kematian Kristus sebagai teladan pemuridan

Salah satu bahaya dari pemahaman yang salah tentang salib Kristus adalah ketika kematian-Nya sekadar dianggap sebagai teladan yang sangat ideal tentang kasih yang rela berkorban daripada kematian yang menggantikan. Jelas, menyangkal kematian Kristus yang menggantikan dan mewakili orang-orang berdosa adalah sebuah kesalahan teologis tingkat pertama. Kematian Kristus itu unik dan bertujuan untuk membayar hukuman atas dosa-dosa umat-Nya. Hal ini harus ditegaskan dengan sangat jelas.

Pada saat yang bersamaan, Injil Markus tidak hanya menampilkan kematian Yesus sebagai penebusan yang unik dan menggantikan. Ia juga menampilkannya sebagai model pemuridan. Tiga kali di dalam Injil Markus Yesus menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya (Mrk. 8:31-33; 9:31; 10:33-34). Dalam ketiga kasus itu Ia mengaitkan pembahasan-Nya tentang penolakan dan penderitaan yang akan Ia alami dengan panggilan menjadi murid (Mrk. 8:34-38; 9:33-37; 10:35-45). Yesus bukan hanya Juru Selamat kita, tetapi juga teladan kita untuk hidup yang setia di dalam dunia yang berdosa (bdk. 1Ptr. 2:21-25).

Konklusi

Injil Markus menampilkan kepada kita Juru Selamat yang sepenuhnya Allah, sepenuhnya manusia, yang menyerahkan nyawa-Nya secara unik sebagai penebusan untuk dosa-dosa umat-Nya. Kita mendapatkan manfaat dari kematian-Nya melalui iman, dan juga kita belajar dari-Nya bahwa jalan kemuliaan adalah jalan penderitaan.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Brandon C. Crowe
Brandon C. Crowe
Dr. Brandon D. Crowe adalah professor bidang Perjanjian Baru di Westminster Theological Seminary di Philadelphia. Ia adalah penulis beberapa buku, termasuk Why Did Jesus Live a Perfect Life? The Necessity of Christ's Obedience for Our Salvation dan The Path of Faith: A Biblical Theology of Covenant and Law.