
Lokus-lokus Teologi Sistematika
22 September 2026
Kekristenan yang Sejati
29 September 2026Harapan dalam Ujian
Tradisi Yahudi meyakini bahwa Bait Suci yang didirikan Salomo dihancurkan pada tahun 586 SM oleh bangsa Babel pada Tisya b’Av (hari kesembilan dalam bulan Av menurut kalender Yahudi). Menariknya, tradisi tersebut juga meyakini bahwa Bait yang dibangun Herodes dihancurkan pada hari yang sama pada tahun 70 M oleh bangsa Romawi. Dalam Yudaisme, hari itu dianggap sebagai hari yang paling menyedihkan yang pernah ada. Hari itu mengakhiri bait suci sebagai institusi utama Yahudi. Karena itu, kitab Ratapan dibacakan setiap tahun selama hari puasa pada Tisya b’Av. Kitab tersebut terdiri dari lima buah puisi yang ditulis secara akrostik, dengan 22 ayat dalam setiap pasal, yang diawali dengan 22 abjad Ibrani secara berurutan. Pasal ketiga yang merupakan bagian tengah kitab menggandakan ini tiga kali lipat, dengan huruf yang sama mengawali rangkaian tiga ayat. Isinya meratapi kehancuran bait suci.
Tentu saja, peristiwa-peristiwa tersebut adalah pukulan telak bagi Yudaisme. Namun, orang Kristen menemukan harapan di awal dan akhir ayat-ayat yang paling terkenal tersebut di dalam kitab Ratapan. Penulisnya, kemungkinan adalah nabi Yeremia, mengungkapkan harapan di dalam Ratapan 3:21-24 dengan ayat 22-23 mengandung perkataan yang akrab ini:
Tak berkesudahan kasih setia TUHAN,
tak habis-habisnya rahmat-Nya,
selalu baru tiap pagi,
besar kesetiaan-Mu!
Setelah dua setengah pasal berisi ratapan yang menyayat hati, Yeremia, yang sepertinya berhenti sejenak, berkata: “Tetapi, inilah yang kuingat, sebab itu aku berharap” (ay. 21). Di hadapan kehilangan dan kesedihan yang luar biasa dan memilukan, sang nabi dapat menemukan harapan pada janji akan kasih setia dan belas kasihan Allah yang tak berkesudahan. Ia mungkin teringat bahwa sama seperti bangsa Israel setiap hari diingatkan akan kesetiaan Allah di padang gurun melalui manna, kita juga setiap hari dapat menemukan harapan pada janji Allah. Dalam keberdosaan kita yang tidak patut mendapatkan kasih-Nya, Allah tetap berkata, “Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau adalah milik-Ku” (Yes. 43:1). Jadi, Yeremia menyimpulkan dengan berkata: “’TUHANlah bagianku’, kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya” (Rat. 3:24).
“TUHANlah bagianku.” Ini berarti bahwa dalam beberapa arti yang nyata dan bermakna, kita memiliki semua yang kita perlukan di dalam Kristus. Ini mungkin terdengar bodoh bagi dunia yang tidak percaya. Dalam perjalanan dan pengalaman hidup saya, orang-orang yang paling merasa puas yang saya kenal adalah, di mata dunia, mereka yang paling kekurangan yang bisa Anda bayangkan.
Bertahun-tahun lalu saya pergi ke Ghana, Afrika Utara, bersama tim misi penjangkauan Joni and Friends, yaitu Wheels for the World. Kami secara rutin mengunjungi para penyandang disabilitas, yaitu korban penyakit polio, yang merangkak dengan sandal di tangan sambil menyeret kakinya yang lumpuh di belakang. Pada suatu malam, kelompok kami dibawa mengunjungi para penyandang disabilitas tunawisma ini, yang tinggal di kardus-kardus di sudut-sudut gelap jalanan kecil. Ketika kami mendekat, kami mendengar mereka menyanyikan lagu-lagu pujian bagi Allah. Kesaksian sederhana mereka adalah: “Ketika hanya Yesus yang Anda miliki, Anda tahu bahwa hanya Yesus yang Anda butuhkan.” Tuhan adalah bagian mereka, dan mereka mengungkapkan harapan yang penuh semangat, sukacita, dan meluap-luap di dalam Kristus.
Iman Kristen sering kali dihayati oleh orang-orang miskin dan marginal tetapi ditolak oleh orang-orang elite, berkuasa, dan populer. Paulus berkata:
Saudara-saudara, ingatlah bagaimana keadaan kamu ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi, apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk mempermalukan apa yang kuat. Apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. (1Kor. 1:26–29)
Harapan kristiani disediakan bagi orang-orang yang menyadari bahwa keadaan mereka sangat terdesak. Mereka yang memiliki segalanya (di mata dunia) secara keliru merasa bahwa mereka tidak memerlukan apa pun dari Allah—atau mungkin siapa pun. Dari kedua kutub yang bertolak-belakang ini, yaitu kemiskinan ekstrem dan kemewahan yang berkelimpahan, kita belajar satu kebenaran yang penting: Kita hampir tidak belajar apa pun dari kenyamanan, kelimpahan, keamanan, dan kemudahan di dalam hidup ini—setidaknya, tidak ada yang bernilai kekal atau bertahan lama. Kita memahami hal ini pada ranah tertentu, seperti olahraga (“tidak ada sakit, tidak ada hasil”). Sebaliknya, pelajaran-pelajaran hidup yang paling berharga dalam kehidupan sepertinya diperoleh melalui rasa sakit, penderitaan, kekurangan, kehilangan, dan kesedihan. Budaya Barat berusaha semampunya untuk menghindari rasa sakit dan penderitaan. Semua yang terjadi pada tahun-tahun belakangan berkutat di seputar mempertahankan keamanan dan kenyamanan maksimum.
Nah, saya mengerti: Saya benci rasa sakit. Saya berusaha menghindarinya. Tidak ada orang yang berkata, “Tolong pilih saya untuk mengalami penderitaan.” Namun, kita harus mengakui bahwa badai kehidupan menghasilkan kekuatan. Orang Viking memilih pohon yang tumbuh di pantai untuk menjadi tiang kapal mereka. Mereka tahu bahwa pohon yang diambil dari tengah hutan, meski tinggi dan lurus, tidak memiliki kekuatan yang didapatkan dari terpaan angin dan badai kencang. Pada masa-masa yang genting, batang pohon yang lebih lemah dari tengah hutan akan patah.
Mari renungkan pola pikir banyak orang selama bertahun-tahun ketika rasa sakit dan penderitaan datang menerjang. Sebuah dilema klasik tercipta yang menyodorkan dua pilihan: Allah itu baik tetapi tidak berdaulat (kalau tidak, Ia akan mengintervensi untuk menyelamatkan mereka yang menderita), atau Allah itu berdaulat tetapi tidak baik (karena Ia bisa menghilangkan penderitaan tetapi sepertinya tidak peduli). Lebih dari empat puluh tahun lalu, Rabi Harold Kushner menyatakan argumen ini di dalam bukunya, Derita, Kutuk atau Rahmat: Manakala Kemalangan Menimpa Orang Saleh [judul asli: When Bad Things Happen to Good People]. Ia sangat menderita karena menyaksikan putranya hidup dan meninggal karena penyakit progeria yang tak tersembuhkan. Orang yang mengidap penyakit genetik ini menua secara cepat dan biasanya mati karena “lanjut usia” pada umur remaja.
Kushner mempertimbangkan dua pilihan itu dan memilih yang pertama, dengan mengatakan bahwa Allah memang baik, tetapi tidak berdaulat. Ia menyemangati kita, berharap kita berhasil melalui penderitaan, tetapi pada akhirnya, Ia tidak dapat menolong kita. Ini adalah teologi keputusasaan. (Sebagai catatan pinggir, Dr. R. C. Sproul mengatakan bahwa hal-hal buruk tidak terjadi pada orang-orang baik—kecuali pada Yesus. Bagaimana dengan hal-hal baik yang terjadi pada orang-orang jahat? Itu, kata Dr. Sproul, membutuhkan penjelasan yang panjang lebar.) Iman kita menegaskan bahwa terdapat sebuah tertium quid, yaitu jalan ketiga: Allah berdaulat dan baik; karena itu, penderitaan memiliki makna bagi mereka yang percaya kepada-Nya.
Itu sebabnya perpektif kita penting. Mereka yang berpandangan Eksistensialisme nihilistik menganggap tidak ada masa depan atau harapan yang bertahan lama di dalam hidup ini. Orang-orang skeptis seperti ini merasa terganggu oleh percakapan tentang kebangkitan dari kematian karena menawarkan benih iman yang melampaui dunia ini. Namun, iman kita yang berpusat pada Kristus meyakini bahwa ada harapan yang melampaui dunia fisik. Tolkien mengatakannya dengan baik di dalam novelnya, The Return of the King, ketika Samwise mendapatkan epifani: “Seperti sebuah anak panah, jelas dan dingin, pikiran itu menembus dirinya bahwa pada akhirnya Bayangan itu hanyalah sesuatu yang kecil dan sementara: ada terang dan keindahan yang luar biasa yang selamanya berada di luar jangkauannya.”
Simeon dan Hana di dalam Lukas 2 adalah contoh orang-orang kudus yang memegang harapan dan melihat, setelah berpuluh-puluh tahun, buah dari harapan tersebut dalam penggenapan janji Allah. Namun, tidak semua orang melihat makna dari penderitaan dan rasa sakit yang mereka alami di dalam hidupnya. Ayub, misalnya, tidak pernah mendapatkan penjelasan dari Allah untuk penderitaannya. Sebaliknya, ia mendapatkan lusinan pertanyaan retoris dari Allah, yang semuanya pada akhirnya mengatakan, “Percayalah kepada-Ku, Aku yang menciptakan segala sesuatu.”
Di dalam Till We Have Faces karya C. S. Lewis, tokoh Psyche berkata, “Hal termanis yang pernah terjadi di dalam hidup saya adalah kerinduan—untuk mencapai Gunung itu, untuk menemukan tempat yang merupakan sumber dari segala keindahan.” Di tempat lain, Lewis berkata, “Jika saya mendapati sebuah keinginan di dalam diri saya, yang tidak dapat dipuaskan oleh pengalaman apa pun di dunia ini, penjelasan yang paling masuk akal adalah bahwa saya diciptakan untuk dunia yang lain.” Kerinduan dan keinginan kita untuk dilepaskan dari segala ujian dan penderitaan mengarahkan kita kepada harapan Injil, yaitu jangkar di tengah badai yang secara tidak terelakkan akan datang menerjang.
Terakhir, Corrie ten Boom melihat Allah sebagai Ahli Tenun dari rajutan kehidupan:
Sering kali Ia menenun kesedihan;
dan aku dalam keangkuhan yang bodoh
lupa bahwa Ia melihat tampilan dari atas
sedangkan aku dari bawah.
Benang-benang gelap sama dibutuhkan
di tangan penenun yang terampil
seperti benang emas dan perak
dalam pola yang Ia rancang.
Ketika Anda menderita, meski sampai tidak dapat diungkapkan dan sangat lama, harapan adalah terang yang melampaui bayang-bayang gelap dunia ini. Harapan adalah jangkar yang menahan. Allah tidak akan melepaskan Anda. Ia mengenal nama Anda. Ia memahami rasa sakit Anda, dan Ia berjanji untuk membawa Anda pulang.


