5 Hal yang Harus Anda Ketahui tentang Pembenaran
11 Juli 2023
Berdoa Mengikuti Mazmur 51
18 Juli 2023
5 Hal yang Harus Anda Ketahui tentang Pembenaran
11 Juli 2023
Berdoa Mengikuti Mazmur 51
18 Juli 2023

Apa Kata Alkitab tentang Hubungan Seks di Luar Nikah?

Apa kata Alkitab tentang hubungan seks di luar nikah? Karena hukum Taurat tertulis di dalam hati (Rm. 2:15), orang yang tidak percaya sekalipun mengetahui sesuatu tentang tujuan dan batas-batas hubungan seks, meski mereka menindas pengetahuan ini (Rm. 1:18). Jadi, faktor yang penting adalah apakah seseorang dengan patuh menerima jawabannya. Meski demikian, orang-orang yang skeptis terhadap iman Kristen, dan orang-orang yang berusaha merasionalisasi dosa, kerap mengatakan bahwa Alkitab tidak secara terang-terangan mengecam hubungan seks di luar nikah. Meski kita tidak akan menjawab orang bebal menurut kebodohannya (Ams. 26:4), orang-orang Kristen harus memberi penjelasan yang gamblang tentang apa yang diajarkan Alkitab mengenai hubungan seks.

Bukan tanpa alasan Iblis bekerja tanpa lelah untuk menyelewengkan hubungan seks. Karena hubungan seks itu suci, pencemarannya mendatangkan bencana. Secara umum, hubungan seks direndahkan dan disalahgunakan terutama melalui dua cara, yaitu melalui seks bebas atau melalui anggapan gnostik bahwa hubungan seks adalah sesuatu yang tabu. Untuk yang pertama, beragam larangan menyangkut hubungan seks yang tidak bermoral telah diabaikan. Untuk yang terakhir, kitab Kejadian diabaikan, dan Kidung Agung dianggap sangat memalukan. Kedua perspektif tersebut menunjukkan kesalahpahaman dan kebingungan yang mendasar terhadap rancangan Allah. Memahami rancangan awal Allah untuk hubungan seks merupakan syarat penting untuk menjawab pertanyaan yang sedang kita bahas.

Menurut kitab pertama di dalam Alkitab, manusia diciptakan dalam keadaan baik. Begitu pula perempuan, yang diciptakan dari laki-laki (Kej. 2:22) dan berpadanan dengan laki-laki (Kej. 2:18), adalah baik. Sebagai pasangan laki-laki (1 Kor. 11:11), perempuan adalah penolong yang dikaruniakan Allah (Kej. 2:18), yang dibutuhkan untuk membawa seluruh ciptaan kepada penggenapan yang dikehendaki, di mana Allah dan para penyandang gambar-Nya tinggal dalam harmoni. Ini seharusnya terjadi ketika manusia melaksanakan mandat penciptaan dengan setia: “Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah” (Kej. 1:28). Sederhananya, rancangan awal Allah untuk membawa ciptaan-Nya ke dalam penggenapannya mencakup hubungan seksual antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, di mana sperma dan sel telur bersatu untuk membentuk embrio (yaitu, manusia). Hubungan seks adalah cara yang disediakan untuk beranak-cucu dan bertambah banyak. Melalui penyatuan ini, yang diproses melalui hubungan seksual yang membuahkan hasil, kerajaan Allah diteguhkan melalui para wakilnya yang menyandang gambar-Nya. Ini adalah unsur yang mendasar dari etika seksual kristiani: hubungan seks, seperti yang dikehendaki Allah, adalah baik.

Akan tetapi, Allah tidak memperbolehkan hubungan seks dalam semua konteks. Menurut Alkitab, hanya ada satu konteks di mana hubungan seks diizinkan, yaitu di dalam kesatuan perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Batasan ini tidak diterapkan oleh para imam era Victoria yang suka berdebat. Allah merancang hubungan seks, dan Allah menetapkan aturan-aturan dalam berhubungan seks. Mungkin lebih dari sebelumnya, etika seksual kristiani dicemooh bahkan oleh orang-orang gereja sendiri. Namun, etika seksual yang alkitabiah tidak samar-samar. Sebagaimana dikatakan oleh C. S. Lewis, pilihannya adalah “pernikahan, dengan kesetiaan penuh terhadap pasangan Anda, atau sama sekali tidak melakukan hubungan seks”.

Sejak awal sekali, batasan satu laki-laki dan satu perempuan dengan jelas diimplikasikan dalam penciptaan hanya satu perempuan bagi Adam. Allah tidak menciptakan empat orang istri bagi Adam, tetapi satu. Kesatuan mereka, sebagaimana digambarkan di dalam Kejadian 2:24, mendahului tindakan penyatuan secara seksual: seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan memegang erat isterinya (LAI: bersatu dengan isterinya), baru kemudian dan hanya kemudian “keduanya menjadi satu daging”. Hubungan seks di luar pernikahan adalah sebuah usaha untuk menikmati hasil dari kesatuan pernikahan tanpa kesatuan itu sendiri. Paulus membahas hal ini di dalam peringatannya kepada jemaat di Korintus.

Tidak tahukah kamu bahwa tubuh kamu semua adalah anggota Kristus? Jadi, akan kuambilkah anggota Kristus dan menjadikannya anggota tubuh pelacur? Sekali-kali tidak! Atau tidak tahukah kamu bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, telah dikatakan: “Keduanya akan menjadi satu daging.” Namun, siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar tubuhnya. Namun, orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap tubuhnya sendiri. (1 Kor. 6:15-18)

“Seks bebas” adalah sebuah istilah yang bertentangan dalam dirinya sendiri. Hubungan suami-isteri diperuntukkan hanya dalam konteks pernikahan saja. Paulus menjelaskan bahwa jika seseorang tidak dapat mengendalikan nafsu seksualnya, pilihannya bukanlah “berhubungan seks dengan siapa saja” tetapi kawin (1 Kor. 7:9). Peringatan ini akan tidak masuk akal seandainya Paulus menganggap hubungan seks di luar nikah itu suci. Karena itu, kita tidak boleh “membangkitkan dan menyalakan cinta sebelum diingininya” (Kid. 2:7). Implikasinya, ada waktu ketika cinta perlu dibangkitkan, tetapi tidak boleh sebelumnya. Kitab Ibrani memperingatkan hubungan seks yang tidak bermoral dan mengatakan bahwa tempat tidur dalam pernikahan yang tidak tercemar adalah obatnya. Namun, perhatikan: hanya tempat tidur pernikahan yang dapat dikatakan “tidak tercemar” (Ibr. 13:4). Secara definisi, hubungan seks di luar pernikahan (yaitu “tempat tidur”) adalah sesuatu yang cemar.

Bagi orang Kristen, hubungan seks di luar nikah bukanlah pilihan. Namun, kalaupun sangat disesalkan itu telah terjadi, hati yang remuk redam tidak dipandang hina Allah (Mzm. 51:19), sebab kita memiliki seorang pengantara kepada Bapa, yaitu Yesus Kristus, Dialah pendamaian untuk segala dosa kita (1 Yoh. 2:1-2). Percayalah kepada-Nya dan jangan berbuat dosa lagi (Yoh. 5:14; 8:11).


Artikel ini awalnya diterbitkan dalam Blog Pelayanan Ligonier.
Aaron L. Garriott
Aaron L. Garriott
Rev. Aaron L. Garriott adalah managing editor majalah Tabletalk, resident adjunct professor di Reformation Bible College, di Sanford, Florida, dan penatua pengajar di Presbyterian Church in America.