Umat Peziarah
26 Januari 2026
Umat Peziarah
26 Januari 2026

Kebenaran yang Tak Berubah dalam Dunia yang Berubah

Sebuah iklan televisi menunjukkan seorang tokoh karikatur yang berjalan dengan kepala terbungkus awan atau kabut atau bola kapas. Slogannya berbunyi “Sukacita akan kepastian” saat awan terangkat dan sosok itu berjalan dengan gembira. Sukacita akan kepastian ini dijanjikan kepada mereka yang berkonsultasi dengan paranormal yang dapat dihubungi di nomor bebas pulsa.

Iklan semacam itu menggambarkan sesuatu tentang karakter kegelisahan dan ketidakstabilan di zaman kita. Banyak orang saat ini mengaku rasional, modern, dan ilmiah, tetapi sering kali mudah tertipu dan mencari-cari kepastian dan kebenaran di tempat-tempat yang aneh. Di manakah kita dapat menemukan kepastian dalam dunia yang terus berubah dan sangat tidak pasti? Sebagai orang Kristen, kita mengacu pada Firman Allah dan yakin akan kebenaran yang kita temukan di sana.

Bagaimana kita dapat menolong orang lain untuk memiliki keyakinan yang kita miliki pada Alkitab? Kita dapat dan harus berargumen untuk kebenaran iman kita, tetapi sering kali orang-orang modern berpikir bahwa mereka telah mempertimbangkan argumen kita dan tahu lebih baik. Adakah cara-cara untuk menantang asumsi-asumsi modern dan membuka jalan bagi pertimbangan kembali atas klaim-klaim Kristen?

Salah satu caranya adalah dengan menekankan keindahan dari kebenaran daripada hanya berfokus pada kebenaran dari kebenaran. Keindahan dari kebenaran dapat ditemukan baik dalam isi maupun bentuk kebenaran yang kita temukan dalam Firman Allah. Keindahan yang kami maksudkan adalah keseimbangan dan proporsi kebenaran, daya tarik dan kepuasan dari kebenaran. Keindahan mengacu pada pemenuhan emosional dari kebenaran serta keyakinan rasionalnya.

Kita dapat melihat keindahan seperti itu di banyak tempat di dalam Kitab Suci, dan salah satu contohnya adalah Mazmur 103. Sebagai mazmur favorit bagi sebagian besar umat Reformed Belanda, Mazmur 103 merupakan mazmur pujian kepada Allah atas kebaikan-Nya kepada umat-Nya. Mazmur ini diawali dan diakhiri dengan kata-kata pujian dan syukur kepada Allah atas karya-karya-Nya, baik atas pemeliharaan-Nya yang bersifat pribadi dan individual (ayat 1-4) maupun atas pemerintahan-Nya yang bersifat universal atas segala sesuatu (ayat 20-22).

Di pusat dari mazmur ini adalah pengakuan yang indah tentang karakter Allah, yang darinya mengalir karya-karya kasih-Nya. Ayat 13, inti dari mazmur ini, menyatakan: “Seperti bapak sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang yang takut akan Dia.” Kasih dan kelemahlembutan rahmat Tuhan kepada umat-Nya adalah seperti kepedulian dan pemeliharaan seorang ayah kepada anak-anaknya. Allah adalah Bapa surgawi kita. Kita tidak hidup di alam semesta yang hanyai bersifat material dan impersonal; kita dikelilingi oleh perhatian dan kasih yang personal.

Belas kasihan Allah dalam Mazmur 103 berfokus pada dua kebutuhan terbesar manusia. Jika kita melakukan jajak pendapat kepada orang-orang mengenai kebutuhan terbesar mereka, akan ada banyak jawaban yang benar-benar meleset dari sasaran. Salah satu penyebab dari kondisi manusia yang tersesat adalah tidak mengetahui apa yang mereka butuhkan. Mazmur ini dengan bijak melihat kebutuhan terbesar kita yaitu keberdosaan dan kefanaan kita. Dosa kita memisahkan kita dari Allah dan membuat kita berada di bawah penghakiman-Nya. Kefanaan kita membayangi seluruh kehidupan dan berarti kehidupan akan berakhir dengan kematian.

Mazmur ini memanggil kita untuk mengingat semua berkat dan manfaat dari Allah “yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu” (ayat 3). Belas kasihan Allah kepada orang-orang berdosa dan fana, yang diperkenalkan dalam ayat 1-5, dikupas dalam puisi yang indah di ayat 8-12 dan 14-17.

Belas kasihan Allah kepada orang-orang berdosa dimulai dengan sebuah kutipan dari Keluaran 34:6. Musa telah meminta Allah untuk menunjukkan kemuliaan-Nya kepadanya, dan Allah menjawab dengan berjanji untuk menunjukkan pada Musa semua kebaikan-Nya ketika Dia lewat sementara Musa bersembunyi di celah bukit batu (Kel. 33:18-23). Ketika Allah lewat, Dia mengucapkan kata-kata yang dikutip dalam Mazmur 103:8 untuk menunjukkan kebaikan-Nya: “TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” Karena rasa sayang-Nya yang besar itu, Allah berjanji bahwa Dia tidak akan memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita (ayat 10). Dosa-dosa kita layak menerima hanya penghakiman dan hukuman. Akan tetapi, kasih Allah yang besar—“setinggi langit dari bumi” (ay. 11)—menjauhkan dosa-dosa kita, “sejauh timur dari barat” (ay. 12).

Mazmur 103 tidak memberi tahu kita bagaimana Allah menjauhkan dosa-dosa kita, tetapi Yesaya 53 memberi tahu kita dengan jelas bahwa Hamba Allah yang Menderita akan memikul dosa-dosa kita dan membawanya pergi. Nubuat dalam Yesaya tersebut mengarahkan kita kepada Yesus, yang menanggung dosa-dosa kita dan membayar hukumannya di atas kayu salib sehingga kita bebas dari dosa-dosa itu selamanya.

Refleksi dari Mazmur 103 juga melihat belas kasihan Allah kepada manusia fana, yang juga merujuk pada Keluaran 34:6. Kasih Allah itu kekal, yang berarti bahwa kematian tidak dapat mengalahkan atau mengakhirinya: “Tetapi, kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang yang takut akan Dia” (Mzm. 103:17). Kasih yang kekal adalah bagi mereka yang akan hidup kekal dalam kasih itu.

Kita membutuhkan kasih yang kekal karena jika kita dibiarkan sendiri, kita akan kembali menjadi debu yang darinya kita diciptakan. Tuhan mengetahui hal itu. Dia ingat bahwa hari-hari kita berlalu dengan cepat dan bahwa kita seperti bunga-bunga di padang. Hidup ini menjadi tidak berarti sama sekali tanpa adanya kasih Allah yang kekal untuk menopang kita, tanpa adanya janji bahwa Allah kita adalah Pribadi yang “menyelamatkan nyawamu dari lubang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat” (ay. 4). Kita melihat bahwa kebangkitan Yesus adalah janji bagi kita akan kehidupan kekal dalam kasih Allah. Sungguh, ini adalah sebuah kebenaran yang indah.

Beberapa orang di dunia mendengar tentang rahmat Tuhan dan berpikir bahwa mereka aman dari murka yang akan datang. Akan tetapi, mazmur ini menegaskan bahwa belas kasihan Allah adalah bagi mereka yang ada dalam ikatan perjanjian dengan-Nya (ayat 18), bagi mereka yang takut akan Dia (ayat 11, 13, 17). Rahmat perjanjian Allah harus dinyatakan kepada kita (ay. 7), tetapi ketika kita menerima penyataan itu, kita mengetahui kebenaran injil yang indah.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

W. Robert Godfrey
W. Robert Godfrey
Dr. W. Robert Godfrey adalah salah satu dewan pengajar di Pelayanan Ligonier dan chairman Pelayanan Ligonier. Ia adalah presiden emeritus dan profesor emeritus bidang sejarah gereja di Westminster Seminary California. Ia adalah pengajar utama untuk banyak seri pengajaran Ligonier, termasuk seri yang terdiri dari enam bagian A Survey of Church History. Ia adalah penulis dari banyak buku, termasuk God’s Pattern for Creation, Reformation Sketches, dan An Unexpected Journey.