Orang Kristen dan Vokasi
27 November 2023
Teologi Menuntun kepada Doksologi
05 Desember 2023
Orang Kristen dan Vokasi
27 November 2023
Teologi Menuntun kepada Doksologi
05 Desember 2023

Pentingnya Pluralitas (Kemajemukan) Penatua

Tinggal di Milan, saya suka berjalan-jalan di sekeliling Kastil Sforza. Dibangun pada abad 15, bangunan tersebut adalah salah satu kastil terbesar di Eropa selama ratusan tahun. Tembok-tembok raksasanya, yang memiliki tinggi lebih dari 30 meter, berdiri tinggi di atas parit luar seperti tsunami batu bata yang menjulang tinggi, membuat kastil tersebut praktis tidak dapat ditembus. Ada masa ketika tembok-tembok itu melingkupi seluruh kota tersebut, melindungi penduduknya dari serbuan musuh dan memberi mereka rasa aman. Di dunia abad pertengahan, sebuah kota yang tidak memiliki tembok sekelilingnya hampir tidak terbayangkan. Kota yang demikian tidak memiliki pertahanan dan hampir tidak mungkin bertahan.

Tembok kota kuno yang luas tersebut menggambarkan kebutuhan gereja akan pluralitas penatua. Sama seperti benteng dan gerbang-gerbang yang dibentengi menolong melindungi kota sehingga kehidupan masyarakat bisa makmur, begitu pula pluralitas pengawas jemaat yang setia di gereja menolong melindungi kehidupan di dalam Kerajaan Allah. Sebuah gereja di mana seorang pendeta senior adalah satu-satunya penatua, atau memiliki otoritas terbesar di antara para pemimpin, berada dalam posisi yang sangat rapuh, terpapar pada bahaya kekuasaan, kepribadian, dan konflik. Kita hanya perlu mengamati perjalanan banyak gereja injili yang berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir untuk melihat betapa benarnya hal ini. Dalam kebanyakan kasus, keruntuhan yang akhirnya terjadi sebagian disebabkan oleh kurangnya otoritas bersama di antara sekelompok penatua.

Setidaknya ada empat alasan alkitabiah dan praktis mengapa pluralitas penatua diperlukan. Pertama, pluralitas penatua memberikan gereja akuntabilitas (pertanggung-jawaban) yang lebih besar. Menurut Alkitab, umat percaya akuntabel atas doktrin dan kehidupan mereka. Apa yang mereka percayai dan bagaimana mereka hidup harus selaras dengan Alkitab. Para penatua gereja lokal memiliki tanggung jawab yang berat untuk meminta akuntabilitas setiap anggota jemaat. Penulis surat Ibrani berkata, “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya, supaya mereka melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu” (Ibr. 13:17). Perhatikan bahwa ayat ini berbicara tentang para pemimpin dalam bentuk jamak. Orang Kristen tidak akuntabel hanya kepada satu pemimpin saja. Sebaliknya, Kristus memelihara Gereja-Nya melalui pluralitas penatua. Akuntabilitas secara bersama ini menolong melindungi kawanan domba Allah dari penyalahgunaan rohani dan penindasan yang bisa dengan lebih mudah terjadi di gereja di mana semua orang akuntabel kepada satu orang.

Selain itu, pendeta itu sendiri juga akuntabel kepada para penatua. Model pemerintahan gereja yang alkitabiah bukan merupakan sistem hierarkis, di mana seorang pendeta senior adalah uskup (bishop) atas semua penatua di gereja. Di dalam Perjanjian Baru, kata “bishop” (juga diterjemahkan sebagai “pengawas jemaat”) dan “penatua” (juga diterjemahkan sebagai “presbiter”) adalah sinonim. Sebagai contoh, ketika Paulus memerintahkan Titus untuk “menetapkan penatua-penatua di setiap kota” (Tit. 1:5), ia menjelaskan syarat-syarat untuk para penatua ini, dan menyebut mereka pengawas jemaat: “Sebab sebagai pengatur rumah Allah seorang pengawas jemaat harus tidak bercacat” (Tit. 1:7). Ia memakai dua istilah untuk menggambarkan jabatan yang sama ini. Begitu pula, di dalam perkataan perpisahannya kepada para pemimpin gereja di  Efesus, Paulus “meminta para penatua jemaat datang” (Kis. 20:17). Ia kemudian menyapa mereka sebagai “pengawas” atau bishop jemaat Allah (Kis. 20:28). Istilah-istilah ini tidak pernah dipakai di dalam Alkitab untuk menggambarkan tingkatan otoritas yang berbeda atau seorang pemimpin yang memerintah gereja seorang diri. Ini berarti bahwa seorang pendeta melayani jemaat bersama dengan “para penatua yang memerintah” (ruling elders), tetapi bukan sebagai yang di atas mereka. Pendeta itu sendiri adalah seorang penatua yang pekerjaannya “berkhotbah dan mengajar” (1 Tim. 5:17). Meski ia telah mendapatkan pelatihan tentang Alkitab dan memiliki karunia rohani untuk dapat dengan benar menafsirkan Firman Allah, suaranya tidak lebih penting daripada suara para penatua yang lain. Tidak pula ia memiliki kuasa untuk memveto keputusan bersama para penatua. Ia harus bekerja sama dengan para penatua yang lain, menghormati kepemimpinan mereka, dan tunduk kepada kebijaksanaan bersama dari mereka. Tidak ada tempat di dalam gereja bagi seorang pemimpin yang mendominasi yang lain. Satu-satunya “bos” di dalam gereja adalah Tuhan Yesus Kristus. Ia sendirilah Kepala atas tubuh-Nya (Ef. 1:20-22).

Kedua, pluralitas penatua memberikan gereja kemungkinan keberhasilan yang lebih besar dalam misi gereja. Sebelum Yesus naik ke surga, Ia meninggalkan sebuah amanat:

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman.” (Mat. 28:18-20)

Menurut Tuhan kita, tujuan dari misi gereja adalah memuridkan. Ini berarti misi gereja adalah pelayanan Firman dan sakramen dalam gereja lokal. Inilah bagaimana Kristus telah memilih mengumpulkan umat tebusan-Nya, menerima penyembahan mereka, menumbuhkan iman mereka, dan mengikat mereka sebagai satu komunitas yang berakar dan diteguhkan dalam kasih (Rm. 12; Ef. 4; Flp. 1:27-2:11).

Akan tetapi, tidak satu pun dari hal-hal tersebut akan berhasil bila tidak ada pluralitas penatua dalam gereja lokal. Pelayanan Firman tidak bergantung pada pelayan Firman itu saja. Para Rasul menetapkan para penatua untuk mengawasi jemaat (Kis. 14:21-23; lihat Flp. 1:1; Yak. 5:14), dan para diaken untuk melayani tubuh Kristus dengan belas kasihan (Kis. 6:1-7). Tanpa pejabat-pejabat gerejawi ini berfungsi dalam peran-peran mereka yang ditetapkan Allah, seorang pendeta tidak dapat memusatkan perhatiannya pada pelayanan doa, khotbah, dan pengajaran. Ia akhirnya pasti akan kewalahan dengan segala administrasi dan terlibat dalam tugas-tugas yang sebenarnya adalah tugas penatua dan diaken. Lebih buruk lagi, ia berisiko mendefinisikan misi gereja menurut visi pribadinya, dan membangun pelayanan di seputar karunia dan kepribadiannya. Ketika hal-hal ini terjadi, konsekuensi rohaninya sangatlah buruk. Sebaliknya, ketika sebuah jemaat diberkati dengan pluralitas dari pejabat-pejabat yang setia, hasilnya adalah kelimpahan. “Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak” (Kis. 6:7).

Ketiga, pluralitas penatua memberikan gereja pemeliharaan yang lebih besar atas kebenaran. Menasihati para penatua Efesus, Paulus berkata: 

Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu … dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid supaya mengikut mereka. Sebab itu, berjaga-jagalah. (Kis. 20:28-31)

Para penatua yang memerintah bertanggung jawab menjaga kemurnian Firman Allah dan sakramen di gereja lokal. Mereka harus waspada menjaga Injil sehingga setiap generasi dapat menemukannya kembali. Kita hidup pada masa ketika orang “tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Tim. 4:3). Sekelompok penatua di gereja lokal menolong memastikan jemaat tersebut berada di jalur yang benar secara doktrinal, dan tidak terseret ke dalam keinginan teologis atau pendapat pribadi dari satu pemimpin. Sebagaimana dikatakan di dalam Kitab Amsal, “ada keselamatan dengan banyaknya penasihat” (Ams. 11:14).

Keempat, pluralitas penatua memberikan kawanan domba Kristus pelayanan pastoral yang lebih luas. Di dalam Perjanjian Lama, sekumpulan penatua ditunjuk untuk menolong Musa dalam memperhatikan umat Allah. Tuhan memberi sebagian dari Roh-Nya yang ada pada Musa kepada tujuh puluh tua-tua sehingga mereka dapat menolongnya menanggung beban tersebut (Bil. 11:16-17). Begitu pula, dalam gereja perjanjian baru, para penatua berbagi tanggung jawab pelayanan pastoral bersama pendeta. Petrus menulis, “Aku menasihatkan para penatua di antara kamu …. Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu” (1 Pet. 5:1-2). Para penatua dapat melakukan hal itu dalam berbagai cara yang praktis. Mereka menggembalakan kawanan domba Allah melalui kunjungan ke rumah-rumah dan menegakkan disiplin berdasarkan Alkitab. Mereka membantu dalam mengajarkan katekisasi kepada jemaat muda dan secara aktif mendorong pekerjaan penginjilan dan misi. Mereka memberikan pelayanan konseling yang alkitabiah dan menolong melayani orang yang sakit atau sekarat. Singkatnya, mereka memastikan bahwa kawanan domba Allah dalam keadaan sehat dan bahwa segala sesuatu di dalam gereja dikerjakan dengan pantas dan teratur. Tidak ada satu orang yang memiliki semua karunia yang diperlukan untuk membangun gereja. Memiliki pluralitas penatua menyediakan bagi jemaat pelayanan pastoral yang lebih luas dengan membawa orang-orang yang memiliki karunia yang berbeda-beda masuk ke dalam kepemimpinan gereja sehingga mereka dapat melengkapi kekuatan seorang pendeta dan menutupi kelemahannya.

Sebagai pendeta, saya bersyukur kepada Tuhan atas banyaknya penatua saleh yang melayani bersama-sama dengan saya selama dua puluh tahun terakhir, baik di Amerika Serikat maupun di Italia. Saya bersyukur atas cara-cara mereka meminta akuntabilitas atas doktrin dan perilaku saya. Mereka menunjukkan kasih dan keberanian untuk mengoreksi saya ketika saya memerlukannya. Saya bersyukur atas komitmen mereka kepada misi gereja, dan selalu mengingatkan saya bahwa misi gereja adalah tentang memberitakan Kristus melalui sarana-sarana anugerah yang umum. Saya bersyukur atas kesetiaan mereka kepada Injil, serta kredo-kredo dan pengakuan-pengakuan iman Reformed, menolong saya tetap berada di jalur yang benar secara teologis dan tidak kehilangan fokus pada Yesus. Saya bersyukur atas kesediaan mereka menggunakan karunia-karunia mereka demi pelayanan pastoral dan kesejahteraan rohani kawanan domba Allah, dengan memberikan kami teladan kepemimpinan-hamba yang seperti Kristus. Menurut janji di dalam Alkitab, apabila Gembala Agung datang, mereka akan menerima “mahkota kemuliaan yang tidak dapat layu” (1 Pet. 5:4). Sampai saat itu, kiranya Kristus sang Raja terus memperkuat tembok-tembok Kerajaan-Nya di setiap gereja lokal dengan pluralitas penatua yang setia.


Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.
Michael G. Brown
Michael G. Brown
Rev. Michael G. Brown adalah pendeta di Chiesa Riformata Filadelfia di Milan, Italy. Ia adalah penulis dari komentari 2 Timotius dalam seri Lectio Continua dan Christ and the Condition.