Mengapa Allah-Manusia?
16 Februari 2026
Mengapa Allah-Manusia?
16 Februari 2026

Perjanjian Kerja

Teologi perjanjian penting untuk banyak alasan. Meski teologi perjanjian telah hadir selama ribuan tahun, rumusannya dipertajam dan dibuat sistematis pada masa Reformasi Protestan. Namun, nilai pentingnya ditingkatkan sekarang ini karena hubungannya dengan sebuah teologi yang relatif baru. Pada akhir abad ke-19, teologi yang disebut “dispensasionalisme” muncul sebagai pendekatan baru dalam memahami Alkitab. Scofield Reference Bible yang lama mendefinisikan dispensasionalisme dalam istilah tujuh dispensasi atau periode waktu yang berbeda di dalam Kitab Suci. Setiap dispensasi didefinisikan sebagai “sebuah periode waktu di mana ketaatan manusia diuji terhadap pewahyuan kehendak Allah yang spesifik”.1 Scofield membedakan tujuh dispensasi yang mencakup ketidakberdosaan, hati nurani, pemerintahan sipil, janji, hukum, anugerah, dan periode Kerajaan. Terhadap pandangan sejarah penebusan yang terpisah-pisah ini, teologi perjanjian berusaha menyajikan sebuah gambaran yang jelas tentang kesatuan penebusan, yang tampak pada keberlanjutan dari perjanjian-perjanjian yang dikaruniakan Allah di sepanjang sejarah dan bagaimana perjanjian-perjanjian itu digenapi dalam karya dan pribadi Kristus.

Melampaui diskusi yang sedang berlangsung antara kalangan dispensasionalis tradisional dan Teologi Reformed terkait struktur dasar wahyu Alkitab, muncul pula sekarang ini sebuah krisis yang bahkan lebih besar terkait pemahaman kita tentang penebusan. Krisis ini berfokus pada lokus imputasi dalam pemahaman kita tentang doktrin pembenaran. Sama seperti doktrin Imputasi merupakan persoalan inti dalam perdebatan abad ke-16 antara para Reformator dan Katolik Roma mengenai pembenaran, begitu pula saat ini persoalan imputasi muncul kembali bahkan di antara kalangan yang mengaku sebagai Injili yang menolak pemahaman Reformasi tentang imputasi. Inti dari persoalan tentang pembenaran dan imputasi adalah penolakan terhadap apa yang disebut “perjanjian kerja”. Teologi perjanjian historis membuat perbedaan penting antara perjanjian kerja dan perjanjian anugerah. Perjanjian kerja merujuk kepada perjanjian yang diadakan Allah dengan Adam dan Hawa dalam keadaan mereka yang sepenuhnya murni sebelum jatuh ke dalam dosa. Di dalamnya Allah menjanjikan mereka berkat yang mensyaratkan ketaatan kepada perintah-Nya. Setelah kejatuhan, kenyataannya Allah terus menjanjikan penebusan kepada makhluk ciptaan yang telah melanggar perjanjian kerja itu. Janji penebusan yang masih terus berlangsung itu didefinisikan sebagai perjanjian anugerah.

Secara teknis, dari satu perspektif, semua perjanjian yang diadakan Allah dengan makhluk ciptaan adalah penuh dengan anugerah, dalam arti bahwa Ia tidak wajib berjanji kepada ciptaan-Nya. Namun, perbedaan antara perjanjian kerja dan perjanjian anugerah memiliki sesuatu yang amat penting karena berkaitan dengan Injil. Perjanjian anugerah mengindikasikan janji Allah untuk menyelamatkan kita bahkan ketika kita gagal melakukan kewajiban yang ditetapkan sejak penciptaan. Ini terutama tampak pada karya Yesus sebagai Adam yang baru. Perjanjian Baru berulang kali memisahkan dan mengontraskan antara kegagalan dan bencana yang menimpa umat manusia melalui ketidaktaatan Adam yang pertama dan manfaat yang dihasilkan dari karya ketaatan Yesus, yang adalah Adam yang baru. Meski ada perbedaan jelas antara Adam yang baru dan yang lama, titik keberlanjutan di antara keduanya adalah keduanya dipanggil untuk tunduk dan taat sempurna kepada Allah.

Ketika kita memahami karya penebusan Kristus di dalam Perjanjian Baru, kita memusatkan perhatian terutama pada dua aspeknya. Di satu sisi, kita melihat penebusan. Dari ajaran-ajaran Perjanjian Baru tampak jelas bahwa dalam penebusan, Yesus menanggung dosa-dosa umat-Nya, dan dihukum untuk dosa-dosa tersebut menggantikan kita. Artinya, penebusan bersifat mewakili dan menggantikan. Dalam arti ini, di kayu salib, Kristus menanggung sanksi-sanksi negatif dari perjanjian yang lama, yaitu, Ia menanggung di dalam tubuh-Nya hukuman yang seharusnya diberikan kepada orang-orang yang tidak hanya melanggar hukum Musa, tetapi juga hukum yang ditetapkan di firdaus. Ia menanggung kutuk yang patut diterima oleh semua orang yang melanggar hukum Allah. Teologi Reformed menjelaskan ini dengan istilah “ketaatan pasif Yesus”. Ini merujuk kepada kerelaan-Nya menerima kutuk Allah menggantikan kita.

Melampaui penggenapan secara negatif dari perjanjian kerja, dalam menanggung hukuman yang seharusnya diberikan kepada orang-orang yang melanggarnya, Yesus menawarkan dimensi positif yang penting bagi penebusan kita. Ia memenangkan berkat perjanjian kerja bagi semua keturunan Adam yang percaya kepada-Nya. Bila Adam adalah pelanggar perjanjian, Yesus adalah pemelihara perjanjian. Bila Adam gagal memperoleh berkat dari pohon kehidupan, Kristus memenangkan berkat itu melalui ketaatan-Nya—berkat yang Ia sediakan bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Di dalam karya-Nya menggenapkan perjanjian bagi kita ini, teologi berbicara tentang “ketaatan aktif” Kristus. Artinya, karya penebusan Kristus tidak hanya mencakup kematian-Nya, tetapi juga kehidupan-Nya. Hidup-Nya yang taat sempurna menjadi satu-satunya dasar pembenaran kita. Adalah kebenaran-Nya yang sempurna, yang diperoleh melalui ketaatan-Nya yang sempurna, yang diimputasikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu, karya ketaatan aktif Kristus penting secara absolut untuk pembenaran siapa pun. Tanpa ketaatan aktif Kristus terhadap perjanjian kerja, tidak ada alasan bagi imputasi, dan tidak ada dasar bagi pembenaran. Jika kita menyingkirkan perjanjian kerja, kita menyingkirkan ketaatan aktif Yesus. Jika kita menyingkirkan ketaatan aktif Yesus, kita menyingkirkan imputasi kebenaran-Nya kepada kita. Jika kita menyingkirkan imputasi kebenaran Kristus kepada kita, kita menyingkirkan pembenaran hanya oleh iman. Jika kita menyingkirkan pembenaran hanya oleh iman, kita menyingkirkan Injil, dan kita dibiarkan dalam dosa-dosa kita. Kita dibiarkan sebagai anak-anak Adam yang menyedihkan, yang hanya bisa menunggu kutuk Allah ditumpahkan sepenuhnya atas kita karena ketidaktaatan kita. Adalah ketaatan Kristus yang merupakan dasar keselamatan kita, baik melalui ketaatan pasif-Nya di kayu salib maupun ketaatan aktif-Nya selama hidup-Nya. Semua ini tidak dapat dipisahkan dari pemahaman Alkitab tentang Yesus sebagai Adam yang baru (Rm. 5:12-20), yang berhasil sedangkan Adam pertama gagal, yang menang sedangkan Adam pertama kalah. Keselamatan kita dipertaruhkan dalam persoalan ini.

1 Scofield Reference Bible, hlm.5.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Majalah Tabletalk.

R.C. Sproul
R.C. Sproul
Dr. R.C. Sproul mendedikasikan hidupnya untuk menolong orang bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah dan kekudusan-Nya. Sepanjang pelayanannya, Dr. R.C. Sproul membuat teologi dapat diakses dengan menerapkan kebenaran mendalam dari iman Kristen dalam kehidupan sehari-hari. Ia terus dikenal di seluruh dunia untuk pembelaannya yang jelas terhadap ineransi Alkitab dan kebutuhan umat Allah untuk berdiri dengan keyakinan atas Firman-Nya.