
Apakah Allah Sungguh Peduli?
23 Maret 2026
Bagaimana Saya Dapat Menghadapi Keputusasaan?
27 Maret 2026Menemukan Pengharapan di Tengah Penyakit Berat
Pada hari ulang tahun kelima putra saya, saya duduk di sebuah pusat kanker yang berjarak enam ratus mil (960 km) jauhnya, menyaksikan kemoterapi mengalir dari kantong infus ke dalam tubuh saya. Saya berjuang melawan jenis kanker yang langka, dan kebutuhan saya untuk menjalani uji klinis membuat saya harus meninggalkan suami dan tiga anak saya yang masih kecil selama beberapa bulan.
Harapan hidup saya di dunia sangat terancam. Kesehatan saya yang baik telah hilang, dan saya kehilangan energi, rambut, dan masa depan yang terprediksi. Alih-alih merawat keluarga saya, hari-hari saya diisi dengan ruang tunggu, transfusi darah, tes medis, dan tidur siang. Saya melewatkan momen-momen penting bersama anak-anak saya dan tidak tahu apakah saya akan hidup untuk melihat lebih banyak lagi.
Melalui ujian kanker dan masa pemulihan, saya membutuhkan pengharapan yang mampu bertahan dalam perjalanan naik turunnya perjuangan kesehatan saya. Karena belas kasihan dan anugerah Allah, kita memiliki pengharapan yang lebih baik yang dapat kita pegang teguh: Tuhan dan Juru Selamat kita, Yesus Kristus. Petrus menulis surat pertamanya kepada orang-orang Kristen yang menderita seperti Anda dan saya untuk meyakinkan kita bahwa hidup yang penuh pengharapan di dalam Kristus tidak akan tergoyahkan oleh ujian-ujian di dunia dan akan bertahan sampai akhir yang mulia.
Hidup yang Penuh Pengharapan
Petrus memulai suratnya dengan kabar baik tentang hidup kita yang penuh pengharapan:
Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan. (1Ptr. 1:3)
Kita bukanlah milik Juru Selamat yang tubuhnya masih berada di dalam kubur. Dia telah bangkit dari kematian, menyatakan kemenangan atas dosa dan maut (1Kor. 15:54-57). Selain itu, kebangkitan-Nya hanyalah awal dari kisah kebangkitan. Dia adalah buah sulung dari kebangkitan, dan semua orang yang adalah milik-Nya akan hidup selamanya karena Dia adalah pengharapan bagi hidup kita (1Kor. 15:20-23).
Ketika kita menderita dampak dari penyakit yang berat, kita akan mudah menjadi lelah dan patah semangat. Kita mungkin kehilangan pengharapan bahwa hidup kita akan kembali normal. Pada momen-momen gelap itu, kita dapat berpegang teguh pada pengharapan bagi hidup kita, Juru Selamat kita yang telah menaklukkan kubur. Kita memiliki hidup yang penuh pengharapan karena kita memiliki Juru Selamat yang hidup.
Pengharapan Kita yang Tak Tergoyahkan
Kita bukan hanya telah dilahirkan kembali kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, tetapi kita juga telah dilahirkan kembali
untuk menerima warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu untuk keselamatan yang telah siap dinyatakan pada zaman akhir. (1Ptr. 1:4-5)
Mereka yang adalah milik Kristus dapat melihat melampaui penderitaan dalam dunia ini dan melihat warisan yang terjamin. Penyakit-penyakit yang merusak tubuh jasmani kita dengan kejam tidak dapat menyentuhnya. Keadaan yang menyebabkan kita kewalahan tidak dapat mengurangi kesempurnaan dan kemurniannya yang kekal. Tidak ada yang dapat mengancam apa yang Allah sediakan bagi kita di surga.
Bagaimana kita tahu dengan pasti bahwa kita akan menerima warisan yang tidak akan layu ini? Petrus berkata bahwa kita dijaga oleh kuasa Allah melalui iman. Hal ini tidak bergantung pada kekuatan kita sendiri atau kekuatan iman kita. Kita menerima warisan ini karena belas kasihan Allah, dan kita memeliharanya dengan kuasa Allah. Pengharapan kita tidak tergoyahkan karena genggaman Allah pada kita tidak tergoyahkan (Yoh. 10:27-29).
Pengharapan Kita yang Mulia
Ketika Petrus menulis tentang hidup yang penuh pengharapan yang tidak tergoyahkan ini, ia tidak menyangkali ujian-ujian kehidupan. Meskipun demikian, Petrus mendorong kita untuk bersukacita bahkan ketika kita berduka karena penderitaan:
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu sementara harus berdukacita oleh berbagai pencobaan, yang dimaksudkan untuk membuktikan kemurnian imanmu, yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kamu memperoleh pujian, kemuliaan, dan kehormatan pada saat Yesus Kristus menyatakan diri. (1Ptr. 1:6–7)
Janji-janji Allah mengangkat pandangan kita dari masalah-masalah kita yang sementara kepada kemuliaan kita yang kekal. Karena karya Allah di dalam diri kita, ujian penderitaan membuktikan bahwa iman kita adalah iman yang sejati. Ketika Kristus datang kembali, iman yang telah Allah kerjakan dalam diri kita melalui ujian-ujian ini akan mendatangkan “pujian, kemuliaan, dan kehormatan” (1Ptr. 1:7). Kemuliaan ini dapat merujuk kepada kemuliaan Kristus, kemuliaan yang kita terima bersama-Nya, atau keduanya. Akan tetapi, kita tahu bahwa masa depan kita bersama Kristus akan penuh kemuliaan, dan ini adalah alasan untuk bersukacita di tengah-tengah penderitaan saat ini.
Pengharapan kita di dalam Kristus adalah tempat perlindungan yang teguh ketika rasa sakit menyerang kita, rasa takut membuat kita kewalahan, dan perubahan-perubahan pada tubuh dan masa depan kita melelahkan kita. Karena hidup kita yang penuh pengharapan yang tidak tergoyahkan dan mulia, kita dapat berkata bersama Petrus: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus!” (1Ptr. 1:3).


