
Mengapa Good Friday (Jumat Agung) disebut “Good” (Baik)?
06 Februari 2026Segala Kebenaran adalah Kebenaran Allah
Sedikit buku yang pernah saya baca yang meninggalkan kesan mendalam pada akal budi dan pemikiran saya. Salah satunya saya baca lebih dari lima puluh tahun yang lalu. Judul bukunya adalah The Metaphysical Foundations of Modern Science (Landasan Metafisis dari Sains Modern), dan buku itu meninggalkan kesan mendalam pada saya karena dengan jelas memaparkan pentingnya pemahaman bahwa semua teori ilmiah mengasumsikan premis filosofis tertentu. Premis filosofis yang menjadi landasan penyelidikan ilmiah sering kali diterima begitu saja dan tidak pernah bahkan dieksplorasi secara sekilas. Namun, di era ketika perdebatan sengit berkecamuk antara sains dan teologi, penting bagi kita untuk mundur kebelakang dan mengajukan pertanyaan tentang landasan teoretis pra-ilmiah bagi seluruh usaha pengetahuan.
Kata sains berarti “pengetahuan.” Kita cenderung memiliki pandangan yang terbatas tentang kata tersebut seolah-olah pengetahuan hanya berlaku dalam ranah penelitian empiris. Selain pengetahuan material, kita juga harus mempertimbangkan kebenaran formal. Dalam hal ini, kita harus mempertimbangkan matematika sebagai benar-benar sains, karena matematika dalam dimensi formalnya menghasilkan pengetahuan yang nyata. Faktanya, jika kita melihat sejarah perkembangan saintifik, kita melihat bahwa mesin yang telah mendorong terobosan baru dan membawa paradigma baru lebih sering daripada tidak adalah mesin matematika formal. Namun, sungguh mengherankan melihat betapa seringnya orang yang terlibat dalam penelitian ilmiah material dengan enteng mengabaikan presuposisi filosofis dari pekerjaan mereka sendiri.
Dalam buku terkenal Carl Sagan berjudul Cosmos, yang didasarkan pada serial televisinya dengan judul yang sama, ia membuat pernyataan berikut: “Kosmos adalah kata Yunani yang berarti tatanan alam semesta. Dalam arti tertentu, kata itu merupakan lawan dari kekacauan. Kata itu mengimplikasikan keterkaitan yang mendalam antara segala sesuatu.” Dalam definisi tentang struktur keseluruhan yang sepertinya tidak berbahaya ini dalam karya Sagan, ia mengasumsikan bahwa alam semesta yang diteliti oleh sains adalah sebuah kosmos dan bukan kekacauan. Ia mengatakan kosmos “mengimplikasikan keterkaitan yang mendalam antara segala sesuatu.” Ini adalah presuposisi besar dalam penelitian saintifik, yaitu bahwa alam semesta yang kita selidiki bersifat koheren. Tersirat ada keterkaitan yang dalam dan mendasar antara segala sesuatu. Alternatif dari kosmos, seperti yang dikatakan Sagan, adalah kekacauan. Jika alam semesta pada dasarnya kacau, maka seluruh usaha saintifik runtuh. Jika alam semesta kacau dan tidak ada keterkaitan, maka sama sekali tidak ada kemungkinan adanya pengetahuan. Bahkan penggalan-penggalan data atomik yang kecil tidak dapat dipahami dalam kerangka kekacauan mutlak, sehingga presuposisi tentang keteraturan yang koheren dan rasional dari segala sesuatu adalah presuposisi yang sangat jelas bagi para ilmuwan.
Ide tentang koherensi yang diasumsikan ini berakar pada penyelidikan filosofis kuno. Orang Yunani kuno, misalnya, mencari realitas ultimat. Mereka mencari prinsip dasar kesatuan yang akan membuat keragaman menjadi masuk akal. Kesatuan ultimat inilah yang disediakan oleh ilmu teologi. Ilmu teologi menyediakan presuposisi yang diperlukan bagi sains modern. Inilah persis titik yang mendorong filsuf terkemuka Antony Flew untuk beralih dari ateisme ke deisme—yakni, kebutuhan esensial akan dasar yang koheren terhadap realitas untuk memungkinkan tercapainya pengetahuan apa pun. Koherensi yang ultimat ini tidak dapat disediakan oleh ketidakpastian dunia ini. Kesatuan ultimat memerlukan sebuah tatanan transenden.
Pada Abad Pertengahan, sebuah krisis muncul di bidang filsafat dengan bangkitnya apa yang para pemikir Muslim sebut sebagai “Integral Aristotelianisme.” Dalam upaya mereka untuk mencapai sintesis antara filsafat Aristotelian dengan teologi Muslim, para pemikir ini menghasilkan konsep yang disebut “teori kebenaran ganda.” Teori kebenaran ganda berargumen bahwa apa yang benar dalam agama bisa jadi salah dalam sains, dan apa yang benar dalam sains pada saat yang sama bisa jadi salah dalam agama. Untuk menerjemahkan hal ini ke dalam kategori kontemporer, kira-kira akan seperti ini: Sebagai seorang Kristen, seseorang dapat percaya bahwa alam semesta tercipta melalui tindakan yang memiliki tujuan dari seorang Pencipta Ilahi sambil pada saat yang sama percaya bahwa alam semesta muncul tanpa tujuan sebagai kecelakaan kosmik. Kedua kebenaran ini, jika diperiksa dengan logika, kelihatannya akan saling bertentangan. Meskipun demikian, teori kebenaran ganda menyatakan bahwa kebenaran bersifat kontradiktif, dan seseorang dapat memegang ide-ide yang kontradiktif tersebut secara bersamaan. Jenis skizofrenia intelektual ini mendominasi zaman kita saat ini, di mana orang berpikir bahwa Allah sama sekali tidak terlibat dalam pembentukan kosmos dari Senin hingga Sabtu, tetapi kemudian menjadi penganut teori penciptaan pada hari Minggu, tanpa menyadari bahwa kedua konsep tersebut sama sekali tidak dapat diharmoniskan.
Di titik ini, pertanyaan muncul, “Apakah logika benar-benar berperan dalam upaya kita untuk memahami realitas?” Sekali lagi, jika kita mengasumsikan koherensi dan keteraturan, logika harus berperan bukan hanya untuk beberapa hal tetapi untuk segala hal. Thomas Aquinas menanggapi Aristotelianisme para filsuf Muslim abad pertengahan dengan mengganti konsep kebenaran ganda dengan konsep mixed articles, membedakan antara alam dan anugerah (bukan memisahkannya, seperti yang dituduhkan oleh banyak kritikusnya). Aquinas mengatakan bahwa ada kebenaran tertentu yang dapat diketahui melalui wahyu khusus yang tidak dapat dipahami melalui penelitian dunia alam, sementara pada saat yang sama ada kebenaran tertentu yang dipelajari dari studi alam yang tidak ditemukan, misalnya, dalam Alkitab. Kita tidak menemukan sistem peredaran darah tubuh manusia dipaparkan secara jelas dalam Kitab Suci. Maksud Aquinas adalah bahwa ada kebenaran-kebenaran tertentu yang merupakan mixed articles, kebenaran yang dapat diketahui dari Alkitab atau melalui studi alam. Di antara mixed articles tersebut, ia memasukkan pengetahuan tentang keberadaan seorang Pencipta.
Tentu saja, poin utama yang diperdebatkan Aquinas, sejalan dengan pendahulunya yang terkenal, Agustinus, adalah bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah, dan bahwa segala kebenaran bertemu di puncak. Jika sains bertentangan dengan agama, atau jika agama bertentangan dengan sains, setidaknya salah satunya pasti salah. Ada masa-masa dalam sejarah di mana komunitas ilmiah mengoreksi bukan Alkitab itu sendiri, melainkan tafsiran yang salah tentang Alkitab, seperti yang kita lihat dalam skandal Galileo. Di sisi lain, wahyu Alkitab dapat bertindak sebagai rem intelektual terhadap teori ilmiah yang tidak berdasar. Dalam hal apa pun, jika pengetahuan dimungkinkan, apa yang Sagan asumsikan harus terus diasumsikan—yaitu, supaya kebenaran dapat diketahui, supaya sains menjadi mungkin, harus ada realitas yang koheren yang sedang kita usahakan untuk ketahui.


