Peran Seorang Ayah di Masa-Masa Sulit

12 Agustus 2026

Peran Seorang Ayah di Masa-Masa Sulit

12 Agustus 2026

Apa Itu Pertobatan?

Markus 1:14–15 mencatat kata-kata pertama yang Yesus ucapkan dalam pelayanan khotbah-Nya di muka umum: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Karena pemberitaan Injil yang pertama oleh Yesus mencakup seruan akan pertobatan dari dosa, kita dapat menyimpulkan bahwa pertobatan merupakan unsur esensial dalam kemuridan Kristen. Untuk mengikut Yesus dengan setia, kita harus bisa menjawab pertanyaan ini: Apa itu pertobatan?

Pertobatan menuju Hidup

Pengakuan Iman dan Katekismus Westminster sangat menolong dalam merangkum ajaran Alkitab mengenai berbagai topik, termasuk “pertobatan menuju hidup,” yang oleh para teolog lain kadang-kadang disebut sebagai “pertobatan injili.” Kedua istilah tersebut membedakan pertobatan yang sejati, yang menyelamatkan, dengan kesedihan yang dari dunia yang sama sekali bukanlah pertobatan yang sejati. Paulus berbicara tentang kesedihan yang saleh yang membawa kepada keselamatan tanpa penyesalan, dan memperingatkan kita tentang kesedihan yang dari dunia yang hanya menghasilkan kematian (2Kor. 7:10–11). Intinya, ia membedakan kesedihan atas dosa kita yang telah membuat Allah murka dan menyakiti orang lain dari kesedihan kita atas konsekuensi dosa itu sendiri. Pertobatan yang tidak menyelamatkan hanyalah kesedihan karena dosa-dosa kita telah menyakiti diri kita sendiri atau kesedihan karena kita ketahuan berbuat salah. Ini adalah jenis kesedihan yang seorang anak tunjukkan ketika tangannya tertangkap basah di dalam toples kue, bukan ketika ia dengan jujur mengakui telah melanggar aturan orang tuanya. Ini adalah jenis kesedihan yang Esau perlihatkan ketika ia menyerahkan hak kesulungan dan berkatnya—kesedihan bukan karena ia meninggalkan kebaikan Allah demi semangkuk makanan, melainkan  kesedihan karena ia kehilangan warisan terbaik (Kej. 25:29–34; 27:1–41; Ibr. 12:16).

Unsur-Unsur Pertobatan Sejati

Berlawanan dengan pertobatan yang dari dunia yang tidak menyelamatkan, pertobatan menuju hidup berpaling dari dosa agar kita dapat kembali kepada Allah melalui Kristus. Pengakuan Iman Westminster 15.2 membantu kita mendefinisikan unsur-unsur pertobatan sejati yang menyelamatkan. Disebutkan di sana bahwa “oleh [pertobatan menuju hidup], seorang pendosa, karena menyadari dan merasakan bukan hanya bahaya, melainkan juga kekotoran dan kekejian dosa-dosanya, yang bertentangan dengan natur kudus Allah dan hukum Allah yang adil; dan atas pemahaman akan belas kasihan-Nya di dalam Kristus bagi mereka yang bertobat, ia begitu sedih dan membenci dosanya, sehingga berbalik dari semuanya itu kepada Allah, dengan tekad dan usaha untuk berjalan bersama-Nya dalam segala jalan perintah-perintah-Nya.”

Pertama, pertobatan menuju hidup bukan hanya mengenali bahwa dosa itu berbahaya bagi kita, tetapi juga bahwa dosa itu kotor dan menjijikkan karena semua pelanggaran merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah yang adil serta penghinaan terhadap karakter-Nya yang kudus sempurna. Hal ini tercermin dalam Mazmur 51:6, di mana Daud mengaku bahwa dosanya dalam kasus Batsyeba dan Uria adalah dosa terhadap Allah semata. Ini adalah hiperbola puitis. Membunuh Uria jelas merupakan dosa terhadap Allah dan Uria. Yang dimaksud Daud adalah bahwa pelanggarannya itu, pertama dan terutama, adalah dosa terhadap Allah. Karena Tuhan adalah Pencipta dan Pemberi Hukum yang kudus, dan kita diciptakan menurut gambar-Nya, setiap dosa adalah dosa terhadap Allah sebelum itu adalah dosa terhadap orang lain. Dosa terhadap orang lain adalah dosa terhadap gambar Allah, sehingga, sebagai kelanjutannya, dosa-dosa itu merupakan upaya untuk menyakiti Allah. Semua dosa adalah “pengkhianatan kosmik,” seperti yang sering dikatakan oleh R.C. Sproul. Dosa-dosa itu merupakan upaya untuk menggantikan Allah dan perintah-perintah-Nya dengan diri kita dan standar kita sendiri.

Pertobatan menuju hidup bukan hanya mengenali bahwa dosa-dosa kita utamanya adalah dosa terhadap Allah, tetapi juga memahami belas kasihan Allah dalam Kristus terhadap orang yang bertobat, sehingga orang berdosa tersebut termotivasi untuk berbalik kepada Tuhan, mengaku dosanya, dan memohon pengampunan (PIW 15.2). Kita juga melihat hal ini dalam Mazmur 51, di mana Daud mengaku dosanya dan memohon belas kasihan Allah. Perhatikan juga perbedaan antara Yudas Iskariot dan Rasul Petrus. Keduanya melakukan dosa yang sangat berat; Yudas menyerahkan Yesus kepada pihak berwenang dan Petrus menyangkal bahwa ia adalah murid Yesus (Mat. 26:14–16, 69–74). Keduanya menunjukkan kesedihan atas dosa mereka (Mat. 26:75; 27:3–4). Namun, kesedihan Yudas atas dosanya berakhir dengan bunuh diri, sedangkan kesedihan Petrus berujung pada pemulihan pelayanan (Mat. 27:5–10; Yoh. 21:15–19). Mengapa ada perbedaan ini? Meskipun telah berdosa, Petrus terus datang kepada Yesus, pertama untuk melihat kubur yang kosong, lalu untuk makan bersama-Nya di pantai danau (Yoh. 20:1–10; 21:1–14). Petrus berlari kepada Yesus karena tahu bahwa Dia berbelaskasihan kepada orang yang bertobat; Yudas melarikan diri dari Yesus hingga akhirnya bunuh diri, karena tidak percaya pada belas kasihan Sang Juru Selamat.

Terakhir, dalam pertobatan menuju hidup, seorang pendosa begitu bersedih dan membenci dosanya sehingga ia berpaling dari dosa-dosanya dengan tekad baru untuk menaati Allah dan upaya yang sesuai untuk mewujudkan tekad tersebut dalam praktik (PIW 15.2). Dengan kata lain, pertobatan bukan berarti sekadar mengatakan bahwa seseorang menyesali dosanya, lalu tidak melakukan upaya apa pun untuk memperbaiki hidupnya. Kita harus menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan Kristus (Rm. 13:11–14), mengingat bahwa kita adalah ciptaan baru di dalam Kristus, dan oleh sebab itu, berusaha hidup seperti ciptaan baru sebagaimana adanya kita. Berbalik dari dosa ini terjadi dengan tegas pada saat kita bertobat dan percaya kepada Yesus, tetapi kemudian berlanjut setiap hari sepanjang sisa hidup kita. Jika kita mengatakan bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri sendiri; tetapi jika kita mengaku dosa kita, Allah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan (1Yoh. 1:8–9).

Kewajiban dan Hak Istimewa dari Pertobatan

Semua ini tidak berarti bahwa kita belum benar-benar bertobat jika kita melakukan dosa yang sama lebih dari sekali. Ini berarti kita harus mempertanyakan kesungguhan pertobatan kita jika kita masih mencintai dosa kita dan sama sekali tidak berusaha untuk menghentikannya. Bagi semua orang yang mengenal Kristus, pertobatan menuju hidup adalah kewajiban yang harus dipenuhi sekaligus hak istimewa yang memungkinkan kita untuk tetap berada dalam persekutuan yang tidak terganggu dengan Juru Selamat kita. Marilah kita membenci dosa, memohon pengampunan, berusaha mempelajari jalan Kristus, dan berjuang untuk menaati hukum Allah, bukan melanggarnya.

Artikel ini awalnya diterbitkan di Blog Pelayanan Ligonier.
Robert Rothwell

Robert Rothwell

Rev. Robert Rothwell adalah associate editor majalah Tabletalk, penulis senior untuk Pelayanan Ligonier, dan resident adjunct professor di Reformation Bible College, di Sanford, Florida. Ia menulis studi harian 1 dan 2 Korintus di majalah Tabletalk pada tahun 2021.