
Bagaimana Saya dapat Bertumbuh dalam Iman?
31 Juli 2025
Mengapa Perjamuan Kudus Merupakan Sarana Anugerah?
07 Agustus 2025Kemuridan di dalam Keluarga
Ayat Alkitab yang berbicara tentang kemuridan yang pantas mendapatkan perhatian yang paling banyak adalah Amanat Agung. Amanat, atau perintah itu, diberikan kepada para murid (Mat. 28:16) agar mereka menjadikan murid (Mat. 28:19-20). Yesus memberitahu caranya: baptisan Kristen dan pengajaran Alkitab. Sebelum orang tua melakukan apa pun untuk mendisiplin anaknya, ia sebaiknya memperhatikan rencana Kristus untuk menjadikan murid. Disiplin Kristus harus menjadi karakteristik rumah tangga kita. Hal ini tentu melibatkan pendisiplinan anak dalam pengertian yang kerap kita pikirkan (Ams. 13:24; 19:18; 22:15; 23:13-14; 29:15-17), tetapi juga menuntut jauh lebih banyak dari orang tua.
Tanpa pembacaan yang cermat atas kitab Amsal dalam konteks seluruh Alkitab, kita dapat (dan sering kali) jatuh ke dalam behaviorisme, yaitu pendekatan psikologi sekuler yang memandang pembelajaran manusia hanya sebagai persoalan mengondisikan respons. Namun, Kristus mengajarkan bahwa kita dan anak-anak kita lebih dari itu. Kita memiliki hati, pusat rohani keberadaan kita, yang darinya perilaku-perilaku itu muncul (Ams. 4:23; Mat. 12:33-35; 15:10-20; Luk. 6:43-45). Alkitab juga mengajarkan bahwa hati kita lahir dalam kesalahan (Mzm. 51:7; Rm. 5:12), dengan demikian para anggota keluarga—orang tua maupun anak-anak—pada akhirnya perlu menyelesaikan masalah mereka dari dalam ke luar.
Kenyataan ini membawa orang tua kembali kepada Amanat Agung. Kebutuhan mendasar dalam kemuridan adalah hati baru yang ditahirkan dari dosa. Hanya Kristus yang dapat mewujudkannya. Tuhan, berbicara melalui Nabi Yehezkiel, berkata, “Aku akan mencurahkan ke atasmu air jernih… memberikan kepadamu hati yang baru… Roh-Ku akan Kutaruh dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku serta melakukannya” (Yeh. 36:25-27). Kaitannya dengan baptisan di dalam Amanat Agung sangat jelas. Apakah seseorang mengakui kredobaptisme (baptisan orang percaya) atau paedobaptisme (baptisan anak), semuanya setuju bahwa baptisan adalah sesuatu yang dilakukan untuk Anda, bukan sesuatu yang Anda lakukan bagi Anda sendiri. Itu adalah tanda lahiriah yang menunjuk kepada pentingnya karya Roh Kudus. Para orang tua Kristen harus menyadari hal ini: tidak ada kemuridan sejati tanpa perubahan hati. Titik awal kemuridan anak-anak kita itu tidak dapat dipisahkan dari baptisan.
Dengan pengharapan bahwa Tuhan mengerjakan perubahan hati pada anak-anaknya, orang tua kemudian dapat melanjutkan kepada tugas “ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28:20). Sekali lagi, ini bukan sekadar penyesuaian perilaku pada anak-anak kecil. Orang tua dengan benar mendisiplin anak-anak mereka dengan konsekuensi-konsekuensi yang tepat bila mereka menunjukkan sikap tidak hormat, kekerasan yang tidak adil, amoralitas seksual, pencurian, dusta, dan rasa tidak puas; dan tindakan disiplin tersebut juga mencakup kata-kata teguran (Ams. 29:15). Namun, Taurat juga memiliki loh batu yang pertama yang berpusat pada Allah (empat perintah pertama, Kel. 20:2-11).
Para orang tua harus merangkul “segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”. Hal ini mencakup panggilan Kristus untuk kesetiaan yang tidak tergoyahkan (Yoh. 14:6; Luk. 10:27) serta penyangkalan diri dan kasih bagi sesama (Mat. 16:24; 22:39), Ucapan Bahagia (Mat. 5:3-12), memprioritaskan kesejahteraan rohani di atas materi (1Tim. 6:17-18) dan berpusat pada jemaat (1Ptr. 4:8; 1Yoh. 4:7; 2Tim. 2:22). Memuridkan dalam hal-hal ini bukanlah sekadar menggunakan tongkat dan teguran, tetapi juga menumbuhkan pengendalian diri, mengasah hikmat, mencari kesempatan untuk melayani, mendorong pengambilan risiko, memberi penghiburan bagi yang kecewa, mengarahkan kembali ketika tersesat, dan memberikan istrahat. Ketika mendidik kedua belas murid, Yesus melibatkan semua hal tersebut sebagai salah satu aspek di dalam program-Nya. Ini bukan satu ukuran untuk semua orang. Sebaliknya, ini melibatkan pertimbangan situasional menyangkut kapasitas, kecenderungan dosa, komitmen, dan pertobatan dari orang-orang yang Ia didik untuk mengikuti jalan yang seharusnya.
Hal ini menuntut banyak dari para orang tua. Secara realistis, itu lebih berat daripada yang sanggup mereka lakukan sendiri. Namun, Allah dengan penuh anugerah telah menyediakan apa yang merupakan kekurangan mereka di dalam jemaat-Nya. Kemuridan keluarga yang holistik berarti berpusat pada jemaat secara radikal dengan memprioritaskan sarana-sarana anugerah yang umum: Firman yang dikhotbahkan, doa, dan sakramen (juga disiplin gereja). Seorang ayah yang tidak memprioritaskan jemaat bagi rumah tangganya merampas dari mereka yang berada dalam tuntunannya Firman yang memberi hidup dan ruang penuh berkat untuk pengudusan. Ia meremehkan semua perintah tentang “sesama/ satu sama lain” di dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam surat-surat kepada jemaat-jemaat. Apakah ia melakukannya karena terlalu malas atau terlalu “bijak”, ia harus tahu bahwa ia tidak berhak mengharapkan berkat bagi dirinya sendiri atau keluarganya melalui pemisahan dari orang-orang saleh. Oleh pilihannya, ia menghasilkan sesuatu yang kurang dari murid Kristus, yang mengasihi jemaat dan menyerahkan diri-Nya baginya (Ef. 5:2, 25).
Tentu saja tidak ada jemaat yang sempurna. Namun, beberapa jemaat lebih baik daripada yang lain (Why. 2-3). Pilihlah dengan cermat sebuah jemaat lokal, yang mengadakan kebaktian korporat pada hari Minggu, yang menyediakan baptisan dan Firman yang dikhotbahkan, juga berbagai kesempatan untuk melayani Allah dan sesama, yang mati bagi diri sendiri, dan mengarahkan ulang prioritas-prioritasnya. Melalui pendidikan kristen, seluruh keluarga akan mendengar kebenaran dari suara-suara tambahan yang berkata, “Inilah jalannya, berjalanlah mengikutinya” (Yes. 30:21). Persekutuan di hari Minggu menolong mereka, yang berusaha berjalan bersama Kristus di dunia ini, merasa sedikit lebih waras, dan membuat kemuridan terasa jauh lebih normal. Kemuridan merupakan sebuah perintah korporat, dan kemuridan ini paling baik digenapi dalam konteks korporat. Disiplin rohani dalam kehidupan jemaat bukan satu-satunya bagian dari kemuridan keluarga, tetapi adalah yang terpenting.
Artikel ini merupakan bagian dari koleksi The Basics of Christian Discipleship.


